assalamu'alaikum

Assalamu'alaikum

Semua yang ada disini adalah hasil Reportase dari dulur dulur Jamaah Maiyah yang ada di manapun Baik dari Kenduri Cinta(KC) Obor Ilahi(OI) BangBang wetan (BBW) Mocopat syafaat (MS) gambang Syafaat (GS) dan maiyah maiyah lain yng sulit sayaa sebutkan,
Blog ini juga memuat syair ataupun puisi Terutama Milik Cak Nun (Emha Ainun Nadjib).
Blog ini Juga menampung saran dan kritik juga tidak berkeberatan apabila ada saudara atau pengunjung atau teman bahkan musuh sekalipun yang ingin menuangkan ide dan tulisan tulisanya...

20/10/12

EMPAT "IBLIS" REPORTASE GAMBANG SYAFAAT SEPTEMBER 2012


Empat “Iblis”

Ternyata untuk menyatakan cinta kepada hambaNya, Allah SWT itu juga lebih suka mengajak “berteater” dengan “acting” seni tingkat tinggi, yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang sudah menyatu denganNya. Misalnya saja, ketika teman-teman SMS saya untuk segera hadir di acara Gambang Safaat (GS) tanggal 25 September 2012 ini, saya sudah bertekad bulat akan mohon ijin untuk tidak hadir. Bukan apa-apa hanya karena leher saya ini “tengeng” (Jw) hingga untuk menengok sakit sekali. Rencananya pagi harinya, Rabu, saya akan pergi ke tukang pijat urat syaraf agar rasa sakit ini tidak terbawa ke tanah suci pada hari Sabtu berikutnya.
Kata orang angin malam akan menambah parah sakit leher tersebut, dan saya sangat paham bahwa acara maiyah-an itu sering “overdosis” sampai tujuh jam lamanya. Namun ketika teman-teman GS mengatakan bahwa Cak Nun, Mas Sabrang, Pak Mustofa, Kiai Tohar, Kiai Budi, bahkan rekan-rekan Bangbang Wetan seperti Cak Priyo, Haris, Rudd Blora, dst akan hadir ke acara ini, saya jadi merasa malu, masak hanya sakit leher saja jadi cengeng. Bandingkan teman-teman tersebut yang harus naik kendaraan umum dari Yogya dan Surabaya, toh tetap setia menghadiri acara maiyah-an ini.
Untuk menunjukkan bahwa saya sedang sakit, saya sengaja membaluti tubuh ini dengan balsam yang menyengat — yakni obat yang saya benci baunya sejak kecil, tujuannya agar tercium oleh Cak Nun, karena saya malu mengatakan sakitnya. Dengan cara ini saya berharap didoakan diam-diam oleh beliau. Entah beliau tanggap ing sasmita atau tidak, kenyataannya, menjelang acara naik ke panggung, mendadak rasa sakit yang sudah saya idap dua hari yang lalu itu hilang seketika! Ajaib!
Bahkan sampai pulang ke rumah meski belum sempat tidur, tapi badan ini tetap segar dan dengan semangat 45, langsung mengetik esai ini. Padahal sepanjang pagi hingga siang sebelum acara GS, saya mengajar penuh, menghadiri pelantikan Kepala BKKBN Provinsi Jawa Tengah, dan Rabu pagi ini menjadi pimpinan sidang membuat Grand Design pembangunan kependudukan Jawa Tengah atas SK Gubernur. Benar-benar Allah SWT mengajak “gojegan” (Jw) lagi dengan saya!
Kejutan lain dari Allah adalah, biasanya acara GS ini hanya saya, Pak Ilyas, Pak Anis dan Om Budi yang menggawangi, kali ini yang jadi pengantar diskusi komplit seperti yang saya tulis tersebut. Ternyata Allah SWT masih ingin bermesraan lagi dengan para jamaah, sambil untuk menunjukkan kembali rasa cinta pada hambaNya, dengan jalan mengirim sekaligus empat “utusan” sebagai penanya untuk memantik diskusi GS.
Yang menarik, pertanyaan keempatnya bernada sama, yakni kecemasan anak muda yang sedang mencari Tuhannya. Penanya pertama datang dari IAIN Walisongo. Orang akan menyangka pertanyaan ini tentu seputar syariah atau masalah Fiqh karena ia adalah mahasiswa yang setiap hari memeluk Al Qur’an. Kita pasti akan menyangka bahwa ia adalah mahasiswa fanatik. Tapi ternyata dugaan itu keliru! Justru ia adalah sosok yang sedang galau — pinjam istilah anak muda sekarang — dengan kebenaran Qur’an, bahkan ragu-ragu terhadap keberadaan Tuhan.
Serunya lagi, penanya kedua sampai keempat juga sama nada pertanyaannya, yakni meragukan keberadaan Tuhan, kuasa Tuhan, janji-janji Tuhan, termasuk tidak percaya kalau Qur’an itu kalamNya. Ibarat pertandingan tinju, para narasumber — terutama Cak Nun — menghadapi petinju kelas berat, setidaknya dari bobot pertanyaannya.
Dari sinilah Allah akhirnya jadi lebih dalam mengajak bermain teater. Cak Nun saya lirik meski kelihatan tenang, tapi saya yakin beliau akan “terpancing” untuk meladeni pertanyaan kelas berat ini dengan berapi-api — kalau tidak boleh dikatakan “emosi”. Benar, dari pertanyaan pemantik diskusi ini mengalir ulasan yang sarat dengan masalah-masalah ketuhanan atau diskusi yang bersifat filosofis-teologis. Barangkali ini sebuah bahan kuliah yang belum tentu hadir di tingkat S3 di IAIN sekalipun.
Dengan kata lain, pertemuan GS ini jadi istimewa karena terjadi diskusi panjang tentang pencarian Tuhan. Karenanya, saya mengucapkan banyak terima kasih — dan juga jamaah lainnya, karena berkat pertanyaan gila ini dialog dan diskusi menjadi menarik. Terus terang saya pun ketika masih seusia mereka, nampaknya tidak sanggup dan tidak berani menanyakan masalah itu, bahkan barangkali kecerdasan saya juga belum sejauh itu.
Karenanya saya menyebut mereka sebagai “iblis”. Bukankah iblis itu diciptakan Tuhan untuk berdialektika dengan manusia — kalau tidak boleh dikatakan menggoda — agar manusia dapat naik kelas kualitas keimanan dan keberagamaannya? Untuk itu, iblis  “rela” diberi cap makhluk jahat oleh manusia.
Nah keempat penanya tadi dalam padangan saya, juga sedang berperan sebagai “iblis”. Sederhana saja, yakni karena mereka bersedia “berkorban” untuk dicap gila, bahkan atheis, gara-gara melontarkan pertanyaan tentang keberadaan Tuhan dan kebenaran Al Qur’an tersebut. Akibatnya, berkat “pengorbanan” mereka itulah jamaah yang lainnya mendapatkan ilmu dahsyat dengan cara yang unik, yakni Allah menciptakan skenario teater Agung ini.
Bayangkan saja jika keempat penanya itu masing-masing mengajukan pertanyaan, misalnya: 1). Yang saya hormati Cak Nun, mohon ijin untuk bertanya, bagaimana pandangan panjenengan kalau wanita pakai cuttex di kukunya,  jika ia berwudlu, apakah sah wudlunya? Terima kasih atas waktu yang diberikan kepada saya 2). Jika pada hari raya Natal, apakah umat Islam boleh mengucapkan selamat Natal? 3), Bagaimana hukumnya sholat di pesawat ruang angkasa? dan 4). Mohon maaf, kalau boleh tahu, jika Cak Nun sholat subuh pakai qunut atau tidak?
Apa jadinya acara GS jika pertanyaan seperti itu? Tentu saja, dialog menjadi tidak menarik, bahkan mungkin saja ada jamaah yang marah, misalnya ada yang berkomentar: wong wis mahasiswa kok Islame isih “play group” terus, atau bahkan ada yang ekstrem mengumpat: asu tenan, takon kok rak mutu babar blas koyo ngono, dst.
Permainan teater ini menunjukkan betapa cinta Dia kepada kita, dan Allah maha pengajar bagi mereka yang belum tahu. Dengan model teateran ini mestinya empat penanya tersebut, bahkan jamaah lainnya jadi ngeh bahwa beginilah kekuasaan Allah ditunjukkan, sekaligus sembari menjawab keraguan mereka tentang keberadaan dan kasih sayangNya.

“Reformasi” Pengajaran Agama?

Munculnya pertanyaan seperti yang saya sebut di atas boleh jadi memang karena kekritisan mereka sudah lebih baik, misalnya berkat informasi yang semakin terbuka, bisa juga karena pengaruh pihak lain, namun bisa juga karena kesalahan para pemuka agama, ustadz, kiai atau apapun namanya dalam memperkenalkan Islam. Mereka sangat malas mencontoh Rasulullah yang mengenalkan Allah dan Islam kepada umatnya dengan cara penuh kasih dan keteladanan yang konkret.
Sekarang bandingkan dengan pengajaran agama kita sejak SD hingga perguruan tinggi, maka nampak jelas betapa agama hanya diajarkan secara syariat fiqh belaka, mulai dari pelajaran tentang rukun Islam, rukun Iman, tata cara ibadah formal, sampai masalah halal-haram, dst. Bukan berarti pelajaran ini tidak perlu, namun agama jangan diajarkan monoton. Belum lagi jika yang mengajar memiliki mashab tertentu, maka makin bingunglah anak.
Harus diakui banyak para pemuka agama yang salah dalam mengajarkan agama kepada anak didiknya. Pelajaran agama (religiusitas) dan pelajaran “tentang agama”, tidak dapat dibedakannya. Pengajaran-pengajaran tentang agama hanya berhenti pada tataran ritual-formal, tanpa bisa membangkitkan kesadaran religius sang anak didik. Akibatnya sering ditemui ironi-ironi, seorang pemuka agama yang mengajarkan bahwa “kebersihan itu sebagian dari iman”, misalnya, namun dalam tataran prakteknya, lingkungan tempat ia tinggal sangat kotor, bahkan tempat ibadah umum yang ia kelola baunya pesing, sampah berserakan, dan sebagainya.
Sebagai sosok yang mengajarkan agama dengan intens. Kegagalan para pemuka agama menanamkan religiusitas (dan bukan pengajaran tentang agama), berbuah ironis. Indonesia yang mengaku bangsa yang Pancasilais, namun kenyataannya juga banyak merusak lingkungan. Korupsi, ketidakdisiplinan, ketidaktertiban dan perusakan lingkungan banyak terjadi di negeri ini. Gunnar Myrdall menyebutnya sebagai bangsa yang lembek (soft state). Fakta inilah yang menyebabkan penanya pertama ”trauma” terhadap orang Islam, dan sialnya ia samakan dengan Islam.
Ini tantangan bagi para agamawan. Mestinya pendekatan para pemuka agama dalam mengajarkan agama juga dibarengi dengan pendekatan kultural. Selama ini yang terjadi keasyikan mengajarkan ritual-ritual agama. Sejak dini anak-anak di TK, keluarga, pondok pesantren, TPQ, dst, diajarkan hal-hal yang konkret tentang kedisiplinan, ketertiban, kebersihan, keindahan, kreativitas,gotong royong, saling menghargai, dst, baru kemudian diterangkan dasar-dasar ayatNya.
Keasyikan mengajarkan ritual dan dalil-dalil membawa anak-anak menjadi hanya sekadar tahu “tentang agama”. Akibatnya ketika ia sudah dewasa tidak bisa membumikan nilai-nilai agama itu. Ini ironis. Yang terjadi adalah fanatisme kepada ajaran agama, dan bukan fanatisme menjalankan dan membumikan nilai-nilai agama. Padahal suku-suku primitif yang tidak tersentuh agama-agama besar, demikian taat menjalankan aturan adat karena ia diajarkan sejak awal apa artinya merawat alam semesta ini.
Banyak ustadz atau kiai yang mengenalkan Tuhan kepada anak didiknya dengan cara yang tidak benar. Allah SWT digambarkan sosok yang kejam, suka menghukum, dan ancaman-ancaman neraka lainnya. Awas lho kalau melanggar hukum Allah, maka akan diseterika punggungmu di neraka kelak. Ini bukan kata saya lho, tapi kata Allah di Qur`an, demikian khotbah yang sering kita dengar. Bukan hal ini tidak penting, namun ini adalah soal pendekatan yang pas.
Banyak pemuka agama yang hebat ilmu agamanya, namun minim pengalaman spiritualitasnya atau minim pengetahuan umum lainnya. Sebaliknya banyak ilmuwan-saintis yang hebat pengetahuan keilmuannya, namun minim pengalaman spiritualitas dan pengetahuan tentang agama.
Padahal kunci penting keberagamaan adalah “kesalehan sosial”. Istilah ini merujuk kepada peminggiran “egoisme” para agamawan untuk “masuk surga sendirian”. Ia tidak hanya sibuk berzikir dan menjalankan ritual agama, mengurung diri di tempat ibadah, namun bersedia turun memeriksa denyut nadi masyarakat di sekitarnya. Ia tidak terjebak bahwa ritual agama adalah “tiket” ke surga, namun ia sadar bahwa sebenarnya agama diturunkan untuk kebaikan di dunia, dan perkara surga itu “hanya risiko” dari amal manusia di dunia.
Dalam term yang lebih luas, mestinya kesalehan pribadi itu harus diimbangi dengan kesalehan sosial dan kesalehan profesional. Inilah yang disebut kesalehan kaffah. Sudah saatnya pemuka-pemuka agama kultural, menggerakkan umatnya untuk menjalani kehidupan di dunia ini melalui kesadaran beragama yang telah ia ajarkan secara formal.
Alhamdulillah, acara GS kali ini menunjukkan bahwa model maiyah-an seperti ini adalah bentuk yang paling sesuai untuk mencerahkan semua pihak, karena dalam acara ini tidak ada guru dan murid, tidak ada kiai dan umat, dst, namun yang ada hanyalah mitra dialog sejajar yang sama-sama mencari Allah dan Rasulullah.
Buktinya, meski keempat penanya tadi bukan orang ahli agama, bahkan ragu tentang Islam, tohAllah “mengangkat” mereka menjadi pemantik yang melahirkan “ilmu dan pemahaman” dahsyat tentang Tuhan dan Ketuhanan.

RAYYA DAN BANGSA YANG KALAH


RAYYA dan Bangsa Yang Kalah

Di tengah-tengah kondisi masyarakat yang terus dijejali sinetron atau film “hiburan”,alhamdulillah film Rayya selesai dikerjakan dan tanggal 20 September 2012 ini siap hadir di berbagai gedung bioskop di tanah air. Rayya adalah salah satu fenomena “aneh” di tengah-tengah para produser atau penulis skenario film tidak mau dibuat pusing oleh misi untuk membawa pencerahan bagi masyarakat penontonnya.
Bahkan dilihat dari judulnya saja, Rayya juga “tidak komersil”, atau “ora kemedol” (Jw), dibanding misalnya judul-judul “Goyang Karawang”, “Tali Pocong”, “Janda-janda Genit”, “Salome”, “Nafsu Besar Tenaga Kurang” dst. Demikian pula di TV TV swasta, rating tertinggi juga dipegang sinetron opera sabun yang hanya bermodalkan shooting di satu ruangan mewah, dengan para bintang pria ganteng dan perempuan seksi, serta alur cerita semaunya. Pokoknya yang penting memperlihatkan kemewahan, kemolekan, dan dialog-dialog yang datar, karakter tokoh ditampilkan secara hitam-putih, seperti ada tokoh kelewat jahat dan ada tokoh kelewat baik, dan semuanya yang tidak masuk akal.
Dialog baru dianggap lucu dan menghibur ketika ada artis menghina bentuk tubuh seperti bentuk gigi tonggos lawan main misalnya. Dialognya — kata Orang Jawa — juga cenderung “cengegesan” atau “clometan”. Pertanyaanya, inikah potret masyarakat kita ataukah ini kepiawaian para produsernya yang paham kondisi “kejiwaan” masyarakat yang kini kalah di segala bidang kehidupan?
Mereka kini dikibuli para penguasa dan politisi, sehingga kehidupan rakyat sehari-hari untuk makan saja susah, apalagi untuk bayar SPP anaknya bahkan beli rumah. Rakyat kini bagai anak yatim piatu sehingga yang mereka butuhkan kini hanya satu kata: “hatinya senang”, dan karenanya film, musik atau sinetron yang “ngepop” saja yang mudah menghiburnya.
Jangankan masyarakat bawah, mereka yang berpendidikan tinggi pun kini juga banyak dilanda stres dan frustrasi akibat marginalisasi tersebut. Lihat saja data BPS (2010), para pencari kerja yang berpendidikan di negeri ini terus meningkat sepanjang tahun sebagai mana dicatat di beerbagai kantor Depnaker.
Di Semarang misalnya, kalau pada tahun 2004 para pencari kartu kuning hanya sekitar 5.000 orang, pada tahun 2007 jumlah tersebut menjadi 27.026 orang, dan 10.568 orang diantaranya lulusan sarjana. Ini data yang tercatat resmi, dan hampir dapat dipastikan yang tidak resmi akan lebih banyak lagi. Data penganggur terbuka di Kota Semarang yang berpendidikan sarjana mencapai angka 85.249 orang (BPS,2008).
Secara umum akhirnya masyarakat mengalami marginalisasi aktif dan marginalisasi pasif. Yang disebut pertama adalah mereka tidak mudah mendapatkan akses, bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling mendasar sekalipun, baik akibat kelangkaan lapangan kerja, pertumbuhan penduduk yang tinggi, kerusakan lingkungan yang parah, maupun karena sumberdaya alam dikorupsi para pejabat sehingga negeri ini melarat.
Kondisi ini akan diikuti oleh keadaan yang kedua, berupa marginalisasi pasif, yakni ketika rakyat yang sudah mengalami kesulitan hidup tersebut, juga mulai tidak mendapatkan perhatian sehingga sulit untuk mengekspresikan kebutuhan yang paling asasi, berupa hak atas hidup, pilihan hidup, karena sikap dan perasaannya terus diaduk-aduk oleh kenyataan politik dan struktur kekuasaan yang menindihnya, sadar atau tidak.
Kesumpekan hidup, frustrasi, dan kemiskinan serta di sisi lain gaya hidup terus di “brain washing-kan” lewat TV swasta, bisa jadi yang muncul adalah agresivitas. Kaum muda marginal terus tertawan dalam stigma negatif, seperti malas, kehilangan oto-aktivitas, kreativitas, inisiatif, dan sebagainya. Karenanya dalam berbagai kelompok, misalnya klub suporter Boneks, mereka merasa mendapatkan “teman senasib seperjuangan” (sense of community), dan teman untuk mengekspresikan kefrustrasiannya — sadar atau tidak.
Sudah lama Barington Moore (1978) bilang bahwa kepatuhan atau perlawanan kaum muda banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial atau kekuasaan, pembagian barang dan jasa. Apalagi kini hirarkhi-hirarkhi baru yang terbentuk akibat proses industrialisasi ini membentuk kelompok kaum muda marginal yang tidak mampu berperan dalam proses ini, hingga mengancam stabilitas sosial.
Dalam masyarakat industrial, nasib manusia seolah-olah tidak ditentukan oleh Tuhan, namun oleh tertib sosial buatan manusia. Dalam sastra Eropa, alienasi psikologis senantiasa digambarkan manusia yang terpecah jiwanya, mengalami keputusasaan terhadap kemungkinan kelestariannya sendiri (Murchland, 1971). Dalam metanarasi postmodernism, maka akan terlihat bahwa keseluruhan sistem sosial terus berubah, dan berujung kesia-siaan masyarakat moderen untuk membangun “sangkar” yang aman. Orang terus tenggelam dalam perasaan krisis (entzauberung).
Panggung politik negara menjadi tidak nyaman dan berubah makna oleh otonomisasi dan sekularisasi, sehingga rasa aman lenyap. Kini para kaum muda marginal ini berada dalam hukum rimba belantara Indonesia. Ini bukan kiasan, namun kenyataan. Matinya hukum di negeri ini, sebagaimana ditunjukkan kasus mafia hukum, penjara “berbintang lima”, kasus suap, kasusCentury, dst, menunjukkan bahwa hukum rimba itu benar adanya, siapa kuat maka ia akan menang.
Korupsi dan berbagai skandal para pejabat baik di tingkat pusat (apalagi) di daerah akibat otonomi tersebut makin menunjukkan, bahwa egoisme atau apa yang disebut Thomas Hobbes bahwa manusia itu serigala bagi sesamanya makin nampak nyata. Ujungnya, kebersamaan nilai goyah karena liberalisasi atau protes individual.
Manusia akan terpecah jiwanya, mengalami keterasingan, mereka tidak takut menerjang siapa saja karena logikanya sederhana saja: “Tidak akan kehilangan apa-apa jika ia mati”. lnilah barangkali gambaran masyarakat marginal, mereka kalah di mana saja. Jangankan untuk masa depan hidup, sekedar untuk makan tiga kali sehari saja mereka harus siap berkelahi dengan siapapun. Sebagian ada yang tetap bermartabat, namun sebagian besar lagi larut dalam konsumtivisme dan beretos intant, serba mau terima langsung jadi, kalau perlu tidak usah kerja namun kaya raya.

Rayya, Etos Bangsa dan Spiritual-Etik

Sesungguhnya etos bangsa adalah totalitas kebiasaan yang terwujud dalam segala sikap dan kelakuan manusia. Etos ini perlu diarahkan ke realisasi eksistensi bangsa agar tidak hanya meningkat taraf hidupnya, namun juga mempertinggi kualitas hidup dan martabatnya.
Dulu para sesepuh kita sering menasehati bahwa untuk mencapai sesuatu cita-cita yang luhur harus melalui “laku” atau jalan panjang yang disertai usaha “prihatin”. Dalam bahasa ilmiahnya harus ada “etos kerja” yang mengacu kepada inner-worldly orientation (orientasi kepada dunia batin) dan this-worldly orientation (duniawi-material). Jika dua hal itu diseimbangkan maka akan muncul self-fulfillment dan self realization, yakni kepuasana batin.
Maraknya budaya instant lewat dunia maya sebagaimana dilakukan Sinta dan Jojo, Udin, Briptu Norman dengan goyang Indianya, dst misalnya, menunjukkan bahwa “laku” sebagaimana dinasehatkan para sesepuh itu tidak ada, dan kalaupun nampak hanya “laku” sekedarnya saja. Dulu orang agar bisa terkenal harus memperlihatkan performance dengan jalan yang berliku dan panjang. Seorang artis seperti Rachmat Kartolo, Koes Plus, Lenny Marlina, WD Mochtar, Lilies Suryani, dan sebagainya, harus melalui jalan yang berliku untuk dapat mencapai puncak karier sebagai seniman.
Bandingkan dengan Sinta-Jojo, Udin atau Briptu Norman. Mereka hanya mengandalkan “seni” seadanya, langsung “meledak” dan diundang kesana — kemari, bahkan Sinta-Jojo langsung masuk dapur rekaman dan bintang iklan. Tentu saja ini bukan salah mereka, karena dunia pers dan dunia rekaman juga ingin “memanfaatkan” momen ini, dan karenanya soal kemampuan actingatau bekal suara bagus bukan suatu masalah.
Padahal laku batin itu dalam istilah Gordon Allport dan David Reisman, adalah motivasi kuat untuk meraih cita-cita (inner-directed), membawanya kepada perasaan penuh optimisme. Manusia adalah the center of human action yang mencurahkan segala energinya untuk mewujudkan mimpinya itu. Lihat saja setiap ada audisi untuk menjadi artis, entah itu “Indonesia Mencari Bakat”, “Indonesia Idol”, dan kontes menyanyi dan melawak, pesertanya membludak sehingga membuat kewalahan panitia.
Yang dipermasalahkan dalam tulisan ini bukan soal suka atau tidak perilaku itu, namun sebuah pertanyaan, apakah ini merupakan representasi etos kerja bangsa yang kini kian memudar? Pertanyaan ini penting sekali dijawab karena dalam segala bidang kehidupan, unjuk kerja atauperformance bangsa kita nampak kalah. Di level pemerintahan misalnya, sudah tidak ada unjuk kerja yang melayani rakyat sebagaimana dicerminkan tingginya angka korupsi dan ngotot-nya anggota dewan untuk meraih keuntungan materi.
Di level olahraga juga tidak nampak prestasi yang membanggakan. Demikian pula di dunia pendidikan. Di negeri ini amat sunyi karya-karya tulis intelektual yang indikatornya ditunjukkan oleh rendahnya buku-buku yang diterbitkan. Negara Dunia Ketiga sekelas India saja sudah menghasilkan pemenang Nobel untuk karya tulis sastra, sedangkan kita belum apa-apa. Demikian juga di tingkat Asia Tenggara saja, jumlah buku terbitan di negeri ini masih jauh tertinggal.
Dari titik inilah kembali bicara soal etos bangsa kita jadi pesimis karena dunia informasi — utamanya media TV — yang notabebe menjadi “panutan” masyarakat, terus “mem-brain washing” masyarakat lewat iklan atau berita yang membawa kepada pelemahan etos bangsa karena bernuansa budaya instant dan hedonis.
Media elektronik lewat sinetron opera sabun hanya sibuk menjual kekonyolan (lewat lawakan yang tidak cerdas, kebanci-bancian, dst), sinetron menjual air mata, hedonisme, nafsu amarah, konsumtifisme, dst, yang terus mengajak masyarakat untuk menirunya. Dalam tayangan iklannya juga setali tiga uang, terus memompakan bahwa yang ideal itu ialah yang cantik, berkulit putih, rambut panjang, memiliki kartu kredit, pakai mobil ini-itu, dst.
Film Rayya nampaknya ingin mengajak bangsa ini tercerahkan sekaligus terhibur. Meski tidak diberi simbol dan label “religi”, film ini tidak mengembangkan “industrialisasi pikiran”, namun jika ditonton dengan hati dan jiwa yang jernih, maka pemahaman dimensi spiritualitas-etik akan nampak dan tercium “aromanya”. Sebagian masyarakat banyak yang sudah merasa berpegangan kepada pemuka agama, politisi, ustadz atau bahkan kiai, padahal banyak diantara mereka yang juga menjelma dalam bentuk-bentuk yang palsu, karena sesungguhnya mereka hanyalah pedagang yang haus menghisap darah rakyat, sadar atau tidak.
Jika diibaratkan sebuah bangunan, Rayya juga tidak sekedar dibuat kokoh dan kelihatan modern, namun sebuah bangunan yang didasari filosofi yang dalam berdasarkan ajaranNya, sehingga setiap orang yang memasuki dan menempatinya akan terangsang emosi religinya, atau tumbuh semacam kesadaran kealamsemestaan dari jiwa yang paling dalam. Bandingkan misalnya kita masuk masjid yang dibuat dengan arsitektur dan bahan moderen sekadarnya serta masjid yang sudah berusia ratusan tahun dan dibiarkan tidak diubah, maka akan terasa bedanya letupan emosi kejiwaannya.
Demikian pula jika kita menonton film jenis “hiburan” dan film yang dibuat dengan “spiritual etik” yang tinggi. Ketika menonton yang disebut terakhir ini, meski barangkali tidak memahami dengan baik dialognya misalnya, maka ia tetap akan tergiring masuk ke dalam lingkaranNya tanpa ia menyadarinya. Ini adalah obat yang paling mujarab bagi mereka-mereka yang kalah, baik yang sudah terseret arus atau karena keadaan diri yang terus dikepung oleh dajjal-dajjaldunia yang menjelma dalam berbagai bentuk, baik di lingkup politik, ekonomi, sosial budaya, bahkan dalam lingkup agama sekalipun.

ALLOH , 2014


Allah, 2014

Sejak jauh sebelum hari Pilgub Jakarta, sejumlah teman saya tanya “lebih ok mana Foke-Nara atau Jokowi-Ahok?” muncul labirin dan mosaik jawaban.
Ada jawaban “close-up” : si FN bagusnya di sini, kacaunya di situ; si JA hebatnya begini,memblenya begitu — tentu saja semua dalam skema nilai-nilai baku kebangsaan dan kenegaraan: kualitas kepemimpinan, kematangan manajemennya, kreativitas pembangunannya, watak sosial budayanya, juga kadar kasih sayang kerakyatannya.
Jawaban yang ini ada yang ambil dari konsep demokrasi modern, ada yang dari filosofi dan budaya tradisi, ada yang dari Agama, tapi tentu saja banyak yang “common sense” atau “kata ini”, “menurut itu” dan lain sebagainya. Yang dari Agama misalnya menyebut pemimpin harus soleh. Soleh maksudnya kebaikan yang dikerjakan dengan konsep, perencanaan dan perhitungan komprehensif sedemikian rupa sehingga “dipastikan” sangat minimal mudlaratnya.
“Soleh” itu “baik” pada formula yang demikian. Ada “baik-baik” yang lain dalam bahasa Tuhan.“Khoir” itu kebaikan yang universal, cair, bahkan Kristal, belum berbentuk, belum aplikatif.“Ma’ruf” itu kebaikan yang sudah melalui dialektika, diskusi, perundingan, pergesekan-pergesekan antar manusia, sehingga kemudian disepakati sebaga aturan bersama. “Ihsan” itu kebaikan yang lahir murni dari nurani manusia: orang berbuat baik meskipun tidak disuruh, tidak diwajibkan, tidak diatur oleh hukum atau etika. Ada lagi “birr”, yang menghasilkan istilah“mabrur” : itu puncak pencapaian kebaikan dalam hubungan spesifik antara manusia dengan Tuhan, pada posisi di mana dunia dipunggungi atau sekurang-kurangnya dinomer-duakan secara total.
Kalau memakai “close-up” pemahaman yang ini, benar-benar tidak gampang menilai mana yang lebih oke antara FN dengan JA. Begitu luasnya kemungkinan dalam kehidupan, namun begitu jauh lebih luasnya cakrawala probabilitas pada diri manusia. Kalaupun persepsi, analisis dan kesimpulan kita tepat tentang JA dan FN, kebenarannya direlatifkan oleh teori ilmu teater: “Tidak ada aktor yang buruk. Yang ada adalah pemain yang berada di tempat yang tepat atau tidak”.
Jadi, soal “casting”. Hidung seindah dan semancung apapun menjadi mengerikan kalau letaknya tergeser setengah sentimeter. Shalat menjadi kebaikan kepada Tuhan hanya kalau dilaksanakan pada interval waktunya. Berdzikir siang-siang itu buruk ketika berbarengan dengan istri bingung tak punya beras. Bernyanyi dan bermusik dangdut itu sangat dilaknat kalau dilaksanakan di halaman Masjid ketika orang sedang shalat Jumat berjamaah.
Bahkan ada orang yang ketepatannya adalah memelihara kambing, bukan ayam. Ada pejabat yang ketepatannya menjadi penjaga gudang. Ada tentara yang ketepatannya berpangkat Kolonel, sehingga Pak Riamirzad Ryacudu ketika menjadi KASAD pusing kepala karena ada temannya yang mengajukan Surat Mohon Tidak Naik Pangkat. Orang macam saya ini hampir sama sekali nir-tepat: jadi intelektual tidak tepat, jadi seniman, kiai, aktivis, dukun, pengasuh Sekolah, pemikir, dan macam-macam lagi — belum pernah benar-benar berada pada koordinat ketepatan.
Kalau keruwetan hidup macam itu dituruti: bagaimana bisa punya presisi pengetahuan bahwa JA tepat memimpin Jakarta? Apalagi terkadang, entah berapa prosentasenya, justru yang diperlukan adalah ketidak-tepatan. Striker sebuah kesebelasan nendang bola agak melenceng, sehingga terkena kaki pemain belakang lawan, sehingga bola meleset dan masuk gawang.
Nabi Muhammad SAW menyarankan mantan musuh utamanya sesudah “Kemenangan Mekah” agar segera cari istri dan berumah tangga. Dilaksanakan. Kelak putra beliau yang dikasih saran ini yang membunuh cucu Nabi. Jengis Khan menghancur-leburkan peradaban Islam meluluh-lantakkan perpustakaan besar Islam Bagdad, kemudian kelak cucunya menjadi tokoh Muslim yang membangun kembali tradisi intelektual dan kebudayaan Islam.
Dalam kasus itu di mana letak ketepatan dan di mana ketidak-tepatan? Penguasa pembunuh keluarga Nabi Muhammad SAW itu menambah teks khutbah Jumat dengan kalimat kutukan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Kelak cucunya menjadi Khalifah terbaik dalam sejarah Islam dan dia yang menghapus kalimat kutukan itu. Karena itu dalam sebuah peperangan, tatkala pasukan musuh keok dan tinggal dipenggal lehernya, Nabi Muhammad SAW melarangnya: “Jangan bunuh, saya sudah mendoakan kebaikan Islam bagi cucu-cucu mereka”.
Jadi JA dan FN berangkulan aja dari maqamnya masing-masing untuk membangun kegembiraan rakyat Jakarta dengan kesungguhan hati dunia akhirat terserah Jokowi bisa wudlu atau tidak, itu wilayah konflik dia dengan Allah. Toh sudah sama-sama bisa makan berkecukupan, bisa beli pakaian lebih dari tiga lembar, punya mobil, dan sudah sama-sama aqil baligh.
Aqil artinya sudah memiliki kesanggupan untuk menggunakan akal. Dan akal itu pasti sehat. Baligh artinya kemampuan untuk menyampaikan, menerapkan, mengaplikasikan, mewujudkan, mengejawentahkan atau mentransformasikan visi menjadi realitas, ilmu menjadi kenyataan, cita-cita dan cinta menjadi entitas kehidupan.
Mereka toh juga sama-sama “Amirul Mu’minin”, pemimpin proses menuju “aman”, dengan landasan “iman”, membawa senjata “amanah”, dengan ujung doa “amin”. Amirul Mu’minin membangun iman amin amanah aman beras rakyatnya, aman sekolah anak-anaknya, aman pasarnya, aman kesehatannya, aman keadilannya, aman hartanya, aman kerjaannya, aman seluruhnya.
Jokowi dan Foke sama-sama Muslim dan Mu’min. Kriteria, parameter atau tanda-tandanya: kalau ada Jokowi dan Foke, kalau ada Muslim dan Mu’min di suatu lingkungan, maka terjamin amanlah harta semua orang, aman martabat semua orang, dan aman nyawa semua orang.
Tetapi jaminan “aman” itu belum pernah benar-benar menjadi pengalaman sejarah, sekurang-kurangnya belum dipercaya bahwa benar demikian. Sehingga atas pertanyaan tentang JA-FN itu muncul jawaban yang sangat lebih jauh “mempercayai” relativitas. Memang lebih luas namun ada semacam tarik-ulur antara kemungkinan dengan kepastian. Semacam jawaban agak bingung antara sangka baik dengan sangka buruk, antara kewaspadaan dengan rasa kapok — oleh suatu keberlangsungan realitas yang mungkin mengecewakan, bahkan mungkin menyiksa.
Kehidupan ini sedemikian tidak pastinya sehingga ada suatu momentum pertandingan sepakbola di mana suatu kesebelasan lebih baik kalah dari pada menang. Karena faktor mental, karakter, route hati dan bioritme, situasi kebersamaan mereka, peta dan tahap turnamen — membuat kesebelasan itu lebih baik mengalami kalah dulu kali ini, demi kebangunan yang lebih matang pada tahap berikutnya. Juga karena kwalitas mental para pemain belum transenden dari situasi kalah atau menang.
Jawaban yang ini berpandangan bahwa dalam hukum dialektika sejarah, belum tentu kalau JA menang itu pasti baik bagi diri mereka atau rakyat Jakarta. Juga kalau FN kalah belum tentu itu buruk bagi keduanya maupun bagi rakyat. Juga tak bisa dipastikan sebaliknya. Tetapi karena keterbatasan rasional, manusia harus mengambil ketetapan pandangan bahwa yang baik adalah kalau JA menang dan yang celaka adalah kalau FN menang. Sementara kalangan yang lain harus memastikan pendapat sebaliknya: bahwa yang aman adalah kalau FN menang dan yang bahaya adalah kalau JA menang.
Keduanya memiliki kebenarannya masing-masing, sehingga yang terindah dalam kehidupan adalah kita manusia menyediakan ruang seluas-luasnya untuk apresiasi bahwa orang lain hidup dalam kebenarannya sendiri yang bisa jadi berbeda atau bertentangan dengan kebenaran kita. Kebudayaan dan peradaban dibangun oleh kesanggupan managemen, kerendah-hatian, dinamika-kontinyu ilmu, kearifan dan kelenturan mental pada manusia di antara perbedaan dan pertentangan itu.
Itulah sebabnya selama pertandingan dua petinju saling mengincar, memukul dan menjatuhkan, kemudian selesai tanding mereka berpelukan, saling mengangkat dan mengacungkan tangan lawannya. Sebab mereka itu “musuh” selama pertandingan namun sahabat dalam kehidupan. Partnership yang kompak dalam ideologi untuk sama-sama menghormati sportivitas. Sportif itu bahasa moralnya: jujur. Bahasa hukumnya: adil. Bahasa keseniannya: pas.
Jawaban yang paling “parah” berbunyi semacam “distrust statement”. Suatu ungkapan pesimis yang ternyata optimistik. Misalnya: “Jokowi atau siapapun pasti bisa berbuat baik dan sedikit mengubah Jakarta, tapi tidak akan berdaya menghadapi penyakit-penyakit Indonesia yang sudah terlalu akut. Yang dicuri terlalu banyak, yang mencuri terlalu banyak, modus pencuriannya, formulanya dan teknis strategi pencuriannya saling mendukung dan saling menggelembungkan dengan mental dan budaya kemunafikan yang hampir sempurna.”
“Semua itu muncul di semua lini dan segmen, di semua bidang dan disiplin, di gedung pemerintahan, di sekolah, di lembaga-lembaga apapun, di jalanan, di tempat-tempat ibadah. Teraplikasi pada manusianya dan sistemnya, etika sosialnya dan hukumnya. Komplikasi penyakit Pemerintahan Indonesia di era apapun sudah bukan hanya tidak bisa diatasi, tapi bahkan semua bertengkar ketika mencoba merumuskannya. Dengan pendekatan ilmu dari bumi, planet-planet maupun dari langit sap tujuh”.
“Ini bangsa semakin tidak mengerti dirinya. Ini Negara salah lahirnya. Ini rakyat menjalani 25 tahun Orde Lama untuk menyesalinya, menelusuri 32 tahun Orde Baru untuk mengutuknya, kemudian memanggul 14 tahun Reformasi untuk muntah dan pecah kepalanya. Bawa ke sini Mahatma Gandhi, Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Firaun yang cacat teologi namun ratusan tahun sejahtera rakyatnya, serta semua pemimpin dunia yang terpuji dan emas catatan sejarahnya: gabungkan menjadi satu orang, mari bertaruh kalau sampai dia bisa mengatasi masalah Indonesia….”
Jadi bagaimana pesismisme itu bisa bersifat optimistik? Teman itu menjawab: “Barang siapa tidak punya kemampuan untuk mengatasi masalah, maka ia tidak berkewajiban untuk menyelesaikan masalah. Barang berat yang mestinya dimuat oleh truk besar, tidak memberi kewajiban kepada becak atau andong untuk mengangkutnya. Kita yang becak lakukan terus darma perjuangan becak, yang andong aktif terus menyelenggarakan pengabdian becak.”
“Setor-setor kerja keras dan kebaikan ke masa depan sesedikit apapun. Rajin tanam padi terus, karena ada sahabat-sahabat dari pegawai birokrasi alam semesta yang menjalankan kewajiban menumbuhkan padi itu dan menyiapkan panen raya. Ada ratusan Kabinet dalam kehidupan, termasuk yang meneteskan embun dari gigir daun-daun, yang memelihara detak jantung, juga yang menjadwal jam berapa kita buang air kecil pagi ini, siang nanti, sampai kelak kita mati atau datang kiamat besar atau kecil, tanpa bergantung pada keputusan DPR dan Sidang Isbat Depag”.
“Ya Allah, nanti 2014 iku Pemilu dong…. Kalau Engkau berpartisipasi, jatah suara-Mu tak satu, melainkan hidayah-Mu dengan mudah merasuki semua mereka yang sedang bingung menentukan pilihan”.
Dimuat di Kolom, Majalah Gatra No. 47 XVIII 27 September – 3 Oktober 2012