assalamu'alaikum

Assalamu'alaikum

Semua yang ada disini adalah hasil Reportase dari dulur dulur Jamaah Maiyah yang ada di manapun Baik dari Kenduri Cinta(KC) Obor Ilahi(OI) BangBang wetan (BBW) Mocopat syafaat (MS) gambang Syafaat (GS) dan maiyah maiyah lain yng sulit sayaa sebutkan,
Blog ini juga memuat syair ataupun puisi Terutama Milik Cak Nun (Emha Ainun Nadjib).
Blog ini Juga menampung saran dan kritik juga tidak berkeberatan apabila ada saudara atau pengunjung atau teman bahkan musuh sekalipun yang ingin menuangkan ide dan tulisan tulisanya...

01/10/11

Repostase Pengajian Gambang syafaat september 2011

Wong Urip mung Gawe Apik

Pertemuan Maiyah Gambang Syafaat kali ini dimeriahkan oleh Kiai Kanjeng yang baru saja bermaiyah dengan PT. Herculon siang harinya. Dalam diskusi ini, Cak Nun melontarkan satu istilah menarik, yakni tujuan hidup itu bukan mencari uang atau materi, namun berbuat kebaikan (gawe apik — Jawa). Untuk itu Cak Nun memberi “tugas” kepada saya untuk menafsirkan istilah itu. Tentu ini tugas berat bagi saya karena mulut dan hati saya belum fasih membaca ayat-ayatNya. Namun untuk menguatkan diri, maka tugas ini justru saya pandang sebagai arena untuk olah pikir dan olah batin agar lebih fasih lagi, karena kunci untuk mendapatkan derajad dari Allah SWT adalah berilmu pengetahuan, dan syarat untuk ini adalah rajin iqro’ dan berpikir (catatan : Allah berkali-kali menantang manusia untuk berpikir….jika kamu sekalian mau berpikir, dst).

Jika perintah “urip mung gawe kebecikan” ini dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka “efek samping”nya adalah materi, uang atau nafkah yang justru lebih melimpah daripada ketika tujuan hidup kita adalah mencari uang semata. Tentu ini berbeda dengan “Kiai Yusuf Mansyur” yang demikian heroik menafsirkan Qur’an dengan “teori” sedekah versinya. Benar dalam Al Qur’an Allah SWT menjanjikan akan melipatgandakan amal kebaikan menjadi 700 kali dan seterusnya, namun tentu ini harus dimaknai dalam hubungan “rasa cintaNya” kepada kita, dan bukan hubungan matematis-kapitalistis. Kalau terjebak dengan cara pandang Kiai Yusuf Mansyur maka orang yang bersedekah bukan dalam kerangka taqwa dan tawakal, melainkan dalam hubungan dagang. “Ini lho Tuhan aku sudah bersedekah, mana imbalan 700 kali itu ?”, barangkali ini yang dicari manusia.

Padahal Allah SWT sudah bernjanji akan memberi rezeki dari arah yang tidak diduga-duga dan akan mencukupkan segala kebutuhan kita, dan Allah hanya meminta dua hal dari kita: taqwa dan tawakal. Taqwa tentu terkait dengan kemesraan cinta antara hamba dan Tuhannya dan tawakal adalah term yang tidak terpisah dari kata kerja. Orang yang tidak pernah bekerja dalam kebaikan tidak boleh mengklaim dirinya tawakal hanya dengan jalan menyerahkan diri saja kepada Allah SWT. Sederhana saja, Allah telah berbagi kepada kita secara demokratis. Kita sudah diberi berbagai fasilitas di alam semesta ini, dan tentu saja ada pembagian tugas atau sharing. Ada qudrah dan ada iradah.

Kalau kita menaruh motor tanpa terkunci dan kemudian kita berdoa kepada Allah agar motor itu tidak hilang, maka ketika motor itu benar-benar hilang jangan kemudian kita mengkambinghitamkan Tuhan atau setidaknya kita bicara takdir. Demikian pula dalam mengelola negara dan apapun, karena pada dasarnya Allah telah berbagai tugas dengan manusia.

Ungkapan “urip mung gawe kebecikan”, dalam bingkai kapitalisme akan ditertawakan. Dalam prinsip kapitalisme, modal harus sekecil-kecilnya dan untung sebesar-besarnya. Karena yang dicari hanya materi atau keuntungan semata, maka efek sampingnya justru “tidak untung”. Dalam kapitalisme yang muncul bukan “kebecikan” yang berbuah “materi”, namun justru kerusakan dan kehancuran. Padahal Allah dengan tegas melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi ini.

Kapitalisme saat ini bagai “agama baru” yang menyembah api. Kaum kapitalis dengan berbagai cara terus menempuh sampai si konsumen merasa kehausan dan bernafsu untuk melepaskan dahaga itu. Para birokrat negara yang begitu fasih berkolaborasi dengan para pemilik modal, sampai dalam membangun negara tidak memperhatikan kebudayaan dan hanya akan menjadikan negara yang “beragamakan api”.

Dalam lingkup yang lebih kecil, yakni di kota, dalam bukunya The Language of Post-Modern Architecture (London, 1977), Jencks menuding ritual perancangan kota yang cenderung seragam, mengikuti logika mesin dan logika berproduksi industrial. Dampak yang dibawanya mirip sebuah “homologisasi” berupa gedung-gedung hypermal, supermarket pencakar langit, perkantoran-bisnis, dst, yang sialnya semuanya serba transparan, boros energi, monoton, dan yang mengerikan, menyihir masyarakatnya untuk menjadi “kerbau yang dicocok hidungnya”.

Akibatnya pembangunan mal dan pusat bisnis lainnya bersifat abstrak, berikut kenyataan bahwa ia berbasis kepada asumsi yang tidak pernah teruji dan tidak pernah sesuai dengan kebutuhan riil manusia. Ia bagaikan “pakaian jadi” bagi manusia modern yang dimitoskan dan karena itu hanya ada di kepala para arsitek dan para pemodal itu. “Agama api” mereka disimbolkan dengan slogan how to big is too big. Buah tangannya adalah kota-kota metropolitan dengan megamal dan gedung pencakar langit nan menjulang.

Kembali kepada ungkapan Urip mung gawe kebecikan pasti ini berbeda dengan prinsip kapitalisme tersebut. Urip mung gawe kabecikan tentu didasarkan atas cinta dan kasih sayang (silaturahim). Rasululloh dengan tegas mengatakan bahwa buah silaturahim adalah umur panjang dan rezeki. Ini bukan sesuatu yang tanpa dasar ilmiah karena rasa cinta menumbuhkan kesarehan dan pasti kesarehan akan mencegah stres. Kehidupan yang makin sumpeg ini berawal dari rasa stres yang kemudian menumbuhkan berbagai penyakit. Rasululloh kemudian juga menambahkan bahwa sumber dari segala macam penyakit hidup adalah berlebihan. Karenanya beliau berwasiat: makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang. Tentu manajemen ala rasululloh ini tidak hanya berlaku untuk makan dalam arti harfiah, namun dalam segala bidang kehidupan.

Urip mung gawe kebecikan yang beralaskan cinta, atau silaturahim, pasti akan menghindarkan manusia dari kehinaan dan kehancuran. Rachim adalah cinta mendalam, dan rahman adalah cinta meluas.
Keduanya adalah buah dari kesungguhan kita dalam menjalankan perintah Allah SWT yang mengajari kita dengan doa yang jelas dan tegas: ihdinas siratal mustaqim, Ya allah tunjukkan kami ke jalan yang lurus (menegakkan).

Dengan kata lain, untuk mencari kebecikan, maka cukup lakukan apa saja yang ada dalam potensi diri kita secara sungguh dan lurus (menegakkan), dan Allah akan memberikan “efek samping” yang tidak terduga-duga sebagaimana dijanjikan dalam “Ayat seribu dinar” di atas. Allah tidak memerintahkan kita mencari “out put”, namun menjanjikan “out come”, apabila kita kita berjalan lurus dan menegakkan.
Urip mung gawe kebecikan akan dipuncaki oleh “sufisme Jawa” lainnya seperti “urip mung sakdremo nglakoni” atau ” urip mung mampir ngombe”. Dalam pandangan Islam tradisional sebagai mana dikatakan Annemarie Schimmel dalam Mystical Dimension of Islam, Tuhan merupakan realitas absolut yang tak terhingga. Kalau Tuhan diibaratkan samudera tak terhingga, maka manusia hanyalah percikan dari samudera Ilahi tersebut, sehingga muncul konsep jabbariyah atau paham fatalisme. Namun bagi saya, urip mung mampir ngombe bukan fatalisme, namun justru puncak kesufian Jawa. Dalam pandangan ini orang Jawa tidak akan “kawin” dengan dunia, karena hidup hanya sebentar (mung mampir ngombe). Jangankan “kawin”, “pacaran” dengan dunia saja tidak sempat.

Namun bagi mereka yang meyakini bahwa Tuhan itu adil, maka pepatah Jawa “sawang sinawang” harus dicermati, Di tengah-tengah kekayaan yang melimpah, kehidupan seseorang belum tentu juga tenteram. Misalnya banyaknya kasus orang kaya yang masih korupsi atau terjebak narkoba, demikian pula para artis yang glamour yang sering berakhir tragis hidupnya, dst, menunjukkan hal itu.

Kemudahan mencari rezeki ternyata diimbangi dengan cara hidup yang glamour sehingga juga mudah habis. Banyaknya teman main, teman bekerja yang cantik atau ganteng, membikin mereka mudah selingkuh. Kesibukan mencari popularitas dan uang menyebabkan hidup mereka “kemrungsung” dan jauh dari kehidupan religiusitas (meski mereka juga mengaku beragama).

Di tengah-tengah kesulitan hidup, di tengah-tengah jaman kalabendhu, serta kegersangan spiritualitas,dst, banyak orang sibuk mencari guru atau perkumpulan-perkumpulan spiritual. Semua kemoderenan dalam arti sistem sosial memberi petunjuk ke arah mana dunia bergerak. Orang banyak mendesakkan diri, menggantikan kenyamanan alamiah dengan yang buatan manusia. Disinilah ketenteraman hidup dipertaruhkan.

Yang mengalami ternyata tidak hanya kaum miskin, namun juga para bos kaya raya dan para artis. Kisah bos Hyundai Korea yang terjun dari lantai atas sebuah hotel hingga tewas menunjukkan hal itu. Demikian pula ramainya pengajian di hotel berbintang lima dengan mengundang dai-dai terkenal dst, menunjukkan kegelisahan sebagian kaum kaya untuk “lari” atau “escape” ke dunia spiritual.

Tujuh Jalan Sufi
Karenanya, pencucian hati merupakan dasar bagi terbitnya ketenteraman hidup. Al Ghazali memberi resep mengembalikan ketenteraman hidup dengan jalan membelakangi dunia. Karena selama masih ada dunia di tangannya, maka kekotoran hati dan kegelisahan akan tetap ada. Ibarat mustahil mandi madu tanpa dikerumuni lalat atau semut.

Pencucian hati agar dapat mendatangkan ketenteraman batin amat sulit dijalani. Setidaknya ada tujuh langkah, yakni:
  1. Pengamalan “maqam” taubat. Taubat dalam pengertian tasawuf adalah pengalihan dari hidup yang terlena, ke arah hidup yang selalu mengingat Tuhan. Terlena mengingat Tuhan adalah pangkal dari segala dosa dan kemaksiatan. Maka laku mengingat Tuhan adalah langkah awal pembinaan budi luhur. Dzikir lahir batin merupakan jalan pertama;
  2. Sesudah taubat adalah laku wara’ yakni satu laku rohani untuk menjauhi hal-hal yang subhad (tidak jelas halal haramnya);
  3. Laku hidup yang mencari sesuatu yang jelas halalnya. Jadi laku ini 90% budi pekerti luhur;
  4. Laku zuhud, yakni menyedikitkan kebutuhan duniawi yang halal;
  5. Tawakal yakni menyerahkan seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan termasuk pemeliharaannya ;
  6. Laku sabar, yakni tidak mengeluh apapun penderitaan yang ada padanya, karena yakin adanya jaminan pemeliharaan Tuhan; dan
  7. Laku ‘rela” atau ikhlas, bahkan penderitaan dianggapnya sebagai satu “kenikmatan”!
Segala kekotoran duniawi ia singkirkan. Arti menyedikitkan kebutuhan duniawi berarti mengandung arti bahwa tidak dilarang untuk mencari harta, asal halal dan diambil secukupnya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ini artinya menjadi “sufi” tidak harus mengasingkan diri dari keramaian duniawi. Orang jawa bilang “topo ngrame”, dan Abu yazid Al Busthami mengatakan: “zuhud (sufisme) adalah tidak memiliki dunia dan tidak dimiliki dunia”. Artinya silakan mencari harta sebanyak-banyaknya (yang halal tentunya), namun jangan menjadi budak dunia.

Rasulullah Muhammad SAW pernah ditanya seorang sahabat: “Ya rasulullah, ada seorang pemuda yang tiap hari kerjanya hanya berdzikir di masjid sampai ia lupa mencari nafkah. Pemuda itu hanya ingat Alloh SWT. Sedangkan kebutuhan makan sehari-harinya disokong oleh kakaknya. Hebat benar pemuda itu cara beribadahnya ya rasul”. Mendengar pujian terhadap sang pemuda yang rajin berdzikir itu Muhammad SAW menjawab: “Yang masuk surga adalah kakaknya!”.

Ini artinya rasululullah mengajarkan bahwa harus ada keseimbangan antara dunia dan akherat. Dunia dicari karena manusia sebagai khalifah dan harta atau materi hanyalah alat untuk beribadah, bukan tujuan. Benda atau materi hanya dapat dibawa mati ketika ditransformasikan atau dirubah “energinya” menjadi nur atau cahaya. Dalam bahasa agama disebut “di-amal saleh-kan”.

Dengan langkah-langkah di atas, diharapkan, kemungkinan orang bunuh diri, mencari dukun agar terkenal, mengkonsumsi narkoba, berselingkuh, dst, tidak akan terjadi. Ia tidak begitu saja akan percaya kepada seseorang “guru”, percaya tuah Gunung Kawi, Gunung Kemukus, pesugihan, dst, karena yang ia yakini adalah pemeliharaan dari Tuhan.

Jika itu dihayati mendalam, tidak akan ada kegelisahan hidup, yang ada ketenteraman. Ini berarti ia telah mencapai maqam tertinggi. Alangkah indahnya memiliki popularitas, materi sekaligus kedalaman spiritualitas. Namun siapa yang sanggup seperti ini? OK pokoknya tetap sehat, tetap semangat, supaya kita tetap “survive” di jaman kalabendhu seperti ini. Pokoknya urip mung gawe kebecikan.



Disarikan oleh Saratri Wilonoyudho.
Aktif Menemani Jamaah Maiyah Gambang Syafaat.
Mengajar di Jurusan Teknik Sipil Unnes Semarang Jawa Tengah.

30/09/11

Catatan Pengajian Padhang mBulan September 2011 (2) Emsyuhada


BELAJAR TIDAK SALAH DALAM HAL KECIL, AGAR SUKSES MENAPAKI YANG BESAR

Foto diambil dari Album Komunitas Gesa JMT

MUNGKIN karena masih dalam suasana Idul Fitri, pengajian Padhang mBulan September ini, tafsir al-Qur’an kembali tidak disuguhkan secara spesifik kepada para jamaah seperti bulan sebelumnya. Cak Fuad justru menampilkan presentasi menggunakan LCD monitor terkait peristiwa halal-bihalal maupun ucapan selamat hari raya yang diterimanya selama lebaran. Hal itu sengaja dilakukan, karena ada beberapa hal yang menurut Cak Fuad perlu dikoreksi dan dibenahi. Memang hal tersebut terkesan sepele. Tapi Jamaah Maiyah adalah manusia yang bersedia terus belajar memperbaiki diri, bahkan terhadap hal-hal yang paling  kecil sekalipun.

Tampilan pertama adalah kiriman kartu lebaran dari Pusat Bahasa dan Panji Gumilang (Az-Zaitun) berbunyi SELAMAT IDUL FITRI 1432 H. Kata Cak Fuad, Itulah kalimat baku yang mestinya digunakan ketika mengucapkan selamat hari raya. Sebab, tak jarang masih ada sebagian orang yang menggunakan pilihan kalimat SELAMAT HARI IDUL FITRI atau SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1432 H. Secara bahasa, Idul Fitri itu sudah menunjukkan hari raya, maka untuk efektifitas kata cukup ditulis dengan SELAMAT IDUL FITRI 1432 H.

Kiriman BBM dari teman maiyah Jakarta merupakan tampilan selanjutnya, berupa poster dari sebuah Paguyuban di Bogor bertuliskan SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA, 1 SYAWAL 1432 H. Hal yang sama juga terjadi pada sebuah spanduk yang bergambar foto Megawati dengan Kepala Bantengnya. Itu semua menurut Cak Fuad adalah ayat-ayat Allah. Bagaimana tidak! Kalau untuk urusan yang kecil dan remeh-temeh semacam itu ternyata masih salah dan keliru, bagaimana bangsa ini mau menjadi bangsa yang besar dan bermartabat. Maka, orang maiyah adalah orang yang cermat dalam segala sikap dan perilaku, agar tidak gampang terpeleset pada jurang kekeliruan maupun kesalahan sekecil apapun.

Tampilan ketiga berupa spanduk yang dikutip isinya: HORMATILAH ORANG BERPUASA dan HORMATILAH BULAN RAMADHAN. Ini mengingatkan saya pada tulisan Gus Mus beberapa tahun silam. Bahwa orang berpuasa tidak gila hormat. Bulan Ramadan tidak pernah minta dihormati, apalagi dengan cara-cara dangkal seperti yang dilakukan oleh para pelaku industri di televisi. Cak Nun juga sering mengatakan bahwa orang berpuasa adalah manusia yang tidak gampang masuk angin, sehingga dengan lantang ia akan berkata: Wahai penjual makanan, bukalah warungmu lebar-lebar siang hari. Bahkan, wahai para PSK, datanglah kepadaku tiga kali sehari jika itu yang kau inginkan. Tapi jangan kecewa jika aku ternyata tak tergiur dengan goda dan rayuanmu, karena aku sedang menjalankan ibadah kepada Tuhanku.

Masih banyak slide yang ditampilkan oleh Cak Fuad, diantaranya gambar sepotong kue RAISIN dengan tulisan SAMPLE (yang dimaknai oleh orang maiyah, bahwa bagi yang memakan tersebut akan gak duwe isin dan sempel),  Launching Nahdlatul Muhammadiyin di Yogjakarta tanggal 9 Ramadlan 1432 H, gambar sebuah buku berjudul Dahlan Asy’ari yang mengungkapkan bahwa kedua tokoh tersebut adalah dua orang sahabat dengan seorang guru yang sama, ialah Syaikhona Kholil Bangkalan, dan lain sebagainya.

Yang agak mengundang tawa adalah tampilan slide berupa berita yang marak di internet sesudah penetapan 1 Syawal oleh pemerintah RI. Si pembuat berita menuliskan, bahwa telah terjadi kesalahanru’yah oleh pemerintah Arab Saudi yang telah menetapkan 1 Syawal pada hari selasa. Hiial yang terlihat sesungguhnya bukan hilal, tapi planet Saturnus. Bahkan, untuk kesalahan tersebut, pemerintah Arab Saudi ditulis telah membayarkan DAM dalam jumlah yang cukup banyak. Isu tersebut dilontarkan sekedar ingin menegaskan bahwa yang benar adalah penetapan pemerintah RI. Berita tersebut lantas dibalas oleh mereka yang berlebaran pada hari selasa dengan menayangkan gambar seseorang melihat hilal dengan bantuan teropong. Lucunya, penutup lensa teropong ternyata belum dibuka. Tak pelak, jamaah pun tergelak dengan keadaan itu.

Gambar tersebut ditayangkan oleh Cak Fuad bukan dalam rangka ingin mengunggulkan golongan yang satu dengan melemahkan golongan yang lain. Dengan tegas ia berkata agar  jamaah tidak men-seriusi, apalagi sampai membawanya pada situasi batin yang paling dalam.  Ia hanya sekedar ingin mengajak jamaah untuk menertawakan diri sendiri. Bahwa, dalam kehidupan ini sesungguhnya banyak tingkah laku konyol yang kadang tidak disadari. Sesekali, manusia perlu melakukan sublimasi, dengan menertawakan kebodohan dan kekonyolannya sendiri.

Hal kecil yang juga penting untuk diperhatikan adalah ucapan selamat hari raya dengan pelafalan yang salah. Itu dibuktikan dengan banyaknya ucapan selamat yang masuk ke Hpnya Cak Fuad melalui pesan singkat. Minal ‘Aidin wal Faizin (yang pertama adalah dal, z adalah zai) ditulis Minal ‘Aidzin wal Faidzin(kedua-duanya memakai dal). Yang benar seharusnya yang pertama. Ada juga yang menuliskanA’idzin (huruf pertama hamzah, yang kedua ‘ain)padahal yang betul adalah ‘Aidzin (huruf pertama ‘ain, huruf kedua hamzah). Hal tersebut sepele tapi sekaligus penting. Sebab dalam bahasa arab, kesalahan satu huruf baik kata maupun harakat akan mempengaruhi pengertian ataupun maknanya.

Banyak hal ditampilkan Cak Fuad dalam rangka mengkritisi kesalahan-kesalahan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan naifnya, kesalahan-kesalahan kecil itu tak hanya dilakukan oleh masyarakat kecil dengan kadar keilmuan rata-rata, seorang tokoh besar Indonesia dengan gelar profesor doktor pun melakukan hal yang sama. Bagaimana kata Lauhul Mahfudz (huruf terakhir menggunakan dhot) ditulisLauhul Mahfud (huruf terakhir ditulis dengan huruf dal). Hal tersebut ditemukan Cak Fuad dalam paparan makalah profesor doktor yang bersangkutan, ketika mengikuti seminar internasional beberapa waktu silam dengan peserta perwakilan negara-negara dari seluruh dunia.

Lebih luas, Cak Fuad kemudian mengkritisi arogansi perilaku keberagamaan yang dilakukan sebagian umat islam, dan sulitnya mengubah budaya keberagamaan yang kadang tidak tepat. Sebuah cerita sufi dari Jalaluddin Rummi dituturkan. Alkisah, di sebuah masyarakat yang mayoritas non muslim, adalah muadzzin yang begitu giat melakukan tugasnya tiap kali waktu shalat wajib tiba. Sayangnya, suara maupun irama adzan-nya sangatlah buruk. Ketika diperingatkan agar tidak mengeraskan suaranya, si Muadzzin justru marah. Ia merasa tersinggung. Bukankah adzan adalah syiar islam? Bukankah melakukan tugas memanggil untuk shalat lima waktu adalah pekerjaan mulia? Demikian yang menjadi pemahamannya.

Suatu hari, datanglah seorang laki-laki kristen mencari muadzzin tersebut ingin memberinya hadiah. Masyarakat tentu saja kaget, apa gerangan yang terjadi? Lelaki tersebut kemudian bercerita bahwa ia memiliki seorang anak gadis yang bersikeras masuk islam karena akan menikah dengan seorang laki-laki muslim. Berbagai cara dilakukan agar si anak membatalkan niatnya, namun tak pernah berhasil.

Suatu waktu, tiba-tiba saja si anak berubah pikiran dan membatalkan niatnya masuk islam. Apa gerangan penyebabnya? Ternyata ia jengah dengan suara adzan yang dilakukan oleh muadzintersebut. Tentu saja si lelaki senang bukan kepalang. Ia ingin memberikan hadiah karena telah merasa “diselamatkan” hidupnya oleh muadzin yang bersangkutan. Pelajaran yang bisa diambil dari cerita tersebut sederhana: itulah kenyataan yang memang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Meski kadang tidak disadari, sebuah kesalahan kecil ternyata dapat membawa dampak buruk bagi kehidupan yang lebih besar.

Di penghujung uraiannya, Cak Fuad menunaikan janjinya atas pertanyaan jamaah yang belum terjawab secara tuntas pada pengajian bulan sebelumnya, ialah perbedaan pengertian antaraTadabbur dan Tafakkur. Meski belum bisa dijelaskan secara tuntas karena terbentur waktu, secara garis besar dijelaskan bahwa kedua kata tersebut berbeda, meskipun secara etimologis memiliki persamaan. Dalam al-Qur’an, kata Yatadabbaru  hanya dikaitkan dengan al-Qur’an, sedangkanTafakkur dihubungankan dengan hal-hal yang menyangkut alam semesta. Tadabbur adalah annadlaru fi awaqibi al-umur, melihat sesuatu yang fokusnya ke belakang. Sementara tafakkur adalah melihat dalil-dalil, argumen-argumen yang berhubungan dengan alam semesta, peristiwa-peristiwa, diri manusia sendiri, atau sang Pencipta, dan lain sebagainya untuk ditafakkuri atau dipikirkan.

Pilihan kata Tadabbur yang lebih dikaitkan dengan al-Qur’an bukan tanpa sebab. Dalam ilmu Nahwu Sharaf dijelaskan, Tadabbara mengikuti wazan Tafa’ala, memiliki arti bahwa sesuatu harus dilakukan secara terus menerus, bersungguh-sungguh, memerlukan stamina untuk melakukannya, melihat makna yang tidak tampak (dbalik teks), serta mencari hikmah atau pelajaran yang terkandung didalamnya.

Artinya, untuk mempelajari al-Qur’an tidak cukup dilakukan secara sporadis tanpa ada istiqomah di dalamnya. Al-Qur’an selalu menawarkan hal-hal yang baru jika dipelajari secara serius, terus-menerus, dan bersungguh-sungguh. Energi besar pun dibutuhkan untuk mempelajari al-Qur’an karena skala waktunya panjang. Yang tak kalah penting, ketika mencerna ayat-ayat al-Qur’an, seseorang tidak boleh hanya terpaku pada teks, atau bahkan menyembah teks (makna tersurat). Jika hal itu dillakukan, sangat terbuka kemungkinan manusia tak akan mampu mengambil hikmah, karena tak bersedia  mengurai makna dari yang tersembunyi dibelakangnya (makna tersirat).

Walhasil, dalam setiap pilihan kata memang tersirat makna. Selanjutnya, bagaimana harus menjalani kehidupan ini dengan segala pernak-perniknya? Semuanya tergantung pada diri kita. Sebab, yang menentukan adalah diri kita sendiri, bukan orang lain(*)

Catatan Pengajian Padhang mBulan September 2011 (1) (em syuhada)


KUALITAS MANUSIA PASCA RAMADHAN


Foto diambil dari Jamaah Maiyah Tuban, yang bermetamorfosis menjadi Komunitas Gesa JMT 

SUASANA masih cenderung sepi ketika saya tiba di Menturo. Kira-kira jam delapan lewat seperempat, saya lihat masih belum begitu banyak jamaah yang hadir. Sebagian bersantai di Masjid, sebagian yang lain bergerombol di kios barakahnya Pak Ndut. Hanya beberapa orang duduk di terpal yang telah digelar di teras nDalem kasepuhan, tempat yang dipersiapkan untuk pengajian. Malam hari itu, bersama enam orang teman saya mengendorkan urat syaraf sejenak setelah sebelumnya menempuh jarak kurang lebih satu setengah jam perjalanan menuju Menturo.

MASIH dalam suasana halal bihalal, pengajian yang dilaksanakan hari senin (12/9/2011) itu dibuka oleh Mas Toto Raharjo -akrab dipanggil Mas Totok-,  dengan penampilan khasnya. Jarum jam sudah menunjukkan angka sembilan lebih. Dzikriyah Ma’iyah sebelumnya telah dilaksanakan dipimpin oleh Cak Rudd Blora, Kang Miftachul Huda, dan Kang Munir. Tidak banyak yang disampaikan oleh Mas Totok. Beliau hanya menceritakan pengalamannya selama mudik di kampung halaman ibundanya terkait  fenomena lebaran dua kali tahun ini. Kata Mas Totok, lebaran dua kali itu bukan persoalan sederhana. Sebab, kebijakan pemerintah yang menetapkan 1 syawal mundur satu hari itu memunculkan akibat yang tidak remeh, terutama bagi masyarakat di kampungnya yang tidak memiliki pengalaman berlebaran dua kali.

Beberapa pertanyaan pun dilontarkan, apakah tidak bisa jika penentuan waktu puasa atau lebaran dilaksanakan jauh-jauh hari, sehingga tidak memunculkan masalah sebagaimana yang terjadi tahun ini. Apakah sebenarnya ru’yah atau hisab itu? Mas Totok juga melemparkan wacana kualitas manusiapasca Ramadan. Ketika selesai puasa, mungkinkah manusia bisa lahir kembali sebagaimana bayi yang baru dilahirkan. Apakah mungkin manusia bisa kembali menjadi bayi? Jika dikaitkan dengan idul fitri, apakah sebenarnya fitri itu?  

Hal-hal itulah yang kemudian direspon oleh Cak Fuad – sapaan akrab Ahmad Fuad Effendi –  setelah sebelumnya Mas Zainul Arifin melantunkan shalawat dan puji-pujian bersama jamaah . Menurut Cak Fuad, perbedaan hari raya tahun ini disebabkan cara penentuannya yang memang tidak sama. Jika kaum Nahdliyin melakukan ru’yah untuk menentukan awal Ramadan ataupun Syawal, itu didasarkan pada sebuah hadits: shumu liru’yatihi wa afthiruu liru’yatihi... dst. (berpuasalah jika melihat hilal, dan berbukalah (berhari-rayalah) jika melihat hilal...dst).

Kata ru’yah (melihat) itu dipahami oleh teman-teman Nahdliyin secara tekstual melihat bulan baru (hilal) dengan menggunakan mata kepala. Hal tersebut berbeda dengan sebagian golongan yang menggunakan perspektif lain. Bahwa melihat tidak harus menggunakan mata. Melihat bisa dilakukan melalui perhitungan-perhitungan tertentu, atau yang lebih dikenal dengan ilmu hisab. Permasalahannya, jika secara hitungan (hisab) posisi hilal masih sekian derajat diatas ufuk dan kecil kemungkinannya bisa dilihat dengan mata, hal itulah yang kemudian rentan menimbulkan perbedaan.

Selama ini, perbedaan pendapat di kalangan umat islam kerap terjadi dan diyakini sebagai hal-hal yang tidak prinsipil. Pertanyaan balik yang kemudian diajukan oleh Cak Fuad, kalau memang tidak prinsip, mengapa diantara sebagian golongan harus ada yang bertahan dengan pendapatnya dan tidak saling berkompromi satu sama lain? Mengapa tidak ada kesediaan duduk satu meja demi kemaslahatan bersama? Cak Fuad lantas menarik kesimpulan, bahwa permasalahan sebenarnya bukan terletak padaru’yah atau hisab itu sendiri. Bahwa ru’yah atau hisab, qunut atau tak qunut, taraweh 20 atau 8 rakaat, dan lain-lain sudah dijadikan trade mark atau ciri khusus dari golongan, sehingga yang muncul kemudian adalah sifat ashobiyah (fanatik secara belebihan kepada sebuah golongan keagamaan tertentu). Alhasil, jika diantara umat islam tidak bersedia merenungi kembali bahwa innama al-mu’minuuna ikhwatun, faashlihuu baina akhawaikum, maka perbedaan itu akan terus terjadi sepanjang hayat.

Tentang idul fitri, Cak Fuad menjelaskan bahwa kata fitri memiliki dua pengertian. Yang pertama, artinya berbuka. Idul fitri adalah hari berbuka. Ini sejalan dengan pengetahuan dalam islam, bahwa ketika idul fitri berlangsung memang tidak diperkenankan untuk berpuasa, bahkan haram. Jadi idul fitri adalah hari raya makan-makan. Sedangkan pengertian kedua dihubungkan dengan kata fitrahsebagaimana pernah disampaikan oleh Nabi, bahwa puasa yang dilakukan oleh manusia imanan waihtisaban menawarkan kemungkinan diampuni dosanya yang telah lalu, sehingga menyeretnya pada situasi kama waladathu ummuhu, seperti ketika pertama kali dilahirkan oleh ibunya suci tanpa dosa.  Maka, Idul Fitri adalah hari dimana manusia kembali kepada fitrah karena dosa-dosanya sudah diampuni olleh Allah SWT.

“Dengan keadaan itu, apakah kemudian ada manusia yang begitu yakin bahwa sesudah puasa, dosa-dosanya telah diampuni Allah SWT, sehingga ketika 1 Syawal ia telah bersih dan suci dari dosa-dosa? Saya kira tidak ada,” tegas Cak Fuad,”Jadi itu semua lebih bersifat harapan. Bahwa sesudah puasa, kita berharap dosa-dosa kita akan diampuni Allah sehingga kita benar-benar mencapai idul fitri.”

Ungkapan lain tentang fitrah menurut Cak Fuad adalah hadits Nabi kullu mauludin yuladu ala al-fitrah, setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Fitrah yang dimaksud memiliki bermacam-macam penafsiran. Salah-satu penafsiran sesuai dengan al-Qur’an adalah keadaan meyakini bahwa Allah itu Esa. Maka, jika kemudian ada manusia memiliki keyakinan bahwa Allah itu lebih dari satu, maka ia sesungguhnya telah keluar dari fitrah kemanusiaan.

Lebih lanjut Cak Fuad menjelaskan kualitas manusia pasca Ramadan. Bahwa puasa yang dilaksanakan sebulan penuh tidak secara otomatis mengubah kualitas kepribadian manusia menjadi bertaqwa. Ini setidaknya ditunjukkan dengan idiom taqwa dalam ayat tentang puasa yang menggunakan fiil mudlori’ (tattaqun). Berbeda dengan fiil madli yang bermakna sudah terjadi (sudah bertaqwa), fiil mudlorimemilki arti harus diusahakan terus-menerus. Artinya, posisi taqwa memang harus diperjuangkan sepanjang kehidupan. Bahkan kalaupun toh sesudah puasa manusia berhasil meraih predikat taqwa, jika  sesudah Ramadan ia tidak berhati-hati dalam sikapnya sehingga melakukan tindakan yang merugikan orang lain, predikat taqwa itu akan hilang pada saat itu juga.

Tentang taqwa, maupun puasa yang harus dilaksanakan terus-menerus dalam hidup, Cak Fuad menyitir ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang puasa (QS.Al.Baqarah:183-188). Bukan sebuah kebetulan jika ayat tentang puasa itu diakhiri dengan pernyataan Allah wala takuulu amwalakum bainakum bilbathil...dst (janganlah kamu memakan harta diantaramu dengan cara bathil...dst). Itu menunjukkan, bahwa yang halal saja diharamkan oleh Allah pada waktu tertentu (apalagi yang haram), maka pasca Ramadan manusia ditegaskan agar tidak memakan sesuatu yang haram (termasuk didalamnya memakan harta orang lain secara tidak sah). Ini berlangsung sepanjang kehidupan.

Artinya, keberhasilan puasa Ramadan sesungguhnya lebih ditunjukkan oleh apakah sesudah 1 Syawal, manusia tetap berpuasa dari hal-hal yang dimurkai oleh Allah SWT atau tidak. Jika dikaitkan dengan pencapaian Idul Fitri, maka upaya mencapai situasi fitri tidak hanya sekedar melakukan puasa selama sebulan penuh kemudian selesai. Kondisi fitri maupun derajat taqwa memang harus diperjuangkan secara terus-menerus sepanjang kehidupan. (*)