assalamu'alaikum

Assalamu'alaikum

Semua yang ada disini adalah hasil Reportase dari dulur dulur Jamaah Maiyah yang ada di manapun Baik dari Kenduri Cinta(KC) Obor Ilahi(OI) BangBang wetan (BBW) Mocopat syafaat (MS) gambang Syafaat (GS) dan maiyah maiyah lain yng sulit sayaa sebutkan,
Blog ini juga memuat syair ataupun puisi Terutama Milik Cak Nun (Emha Ainun Nadjib).
Blog ini Juga menampung saran dan kritik juga tidak berkeberatan apabila ada saudara atau pengunjung atau teman bahkan musuh sekalipun yang ingin menuangkan ide dan tulisan tulisanya...

29/10/12

Hinalah Daku Kau Kusayang

Hinalah Daku, Kau Kusayang

Ciptaan Allah paling awal, Nur Muhammad (cahaya yang terpuji), yang kemudian membuat Allah berminat menciptakan jagat raya, salah satu episode tugasnya adalah berlaku menjadi Muhammad bin Abdullah. Di Mekah, selama 63 tahun, berpangkat Nabi dan menjabat sebagai Rasul terakhir; salah satu “profesi” utamanya adalah dihina.

Tak ada perdebatan kenapa hanya 63 tahun, sementara pendahulunya, misalnya Adam atau Nuh, ditugasi menjadi pelakon utama antara 900 sd 1300 tahun. Mungkin Allah ambil keputusan begini: Muhammad sebentar aja, tetapi saya bawain buku panduan lengkap, Al-Qur’an, tinggal disampaikan, terserah manusia memakainya atau tidak.

Para pendahulu dikasih ratusan tahun tapi ternyata tidak cukup untuk meneliti dan menemukan jatidiri. Maka yang terakhir ini 63 tahun saja, dengan “buku manual” yang terjaga kemurniannya secara absolut. “Inna nazzalnadz-dzikro wa inna lahu lahafidhun”, Allah kasih buku bimbingan, dan Ia berjanji menjaganya.
63 tahun dengan pencapaian sejarah yang membuat Michael Hart meletakkannya sebagai tokoh nomer satu yang paling berpengaruh dalam sejarah ini, terlalu revolusioner dan ekstra-fenomenal — sehingga sangat potensial untuk melahirkan rasa cemburu dan kedengkian di seluruh muka bumi. Mungkin karena itu “software” manusia Muhammad juga disiapkan oleh Allah untuk memiliki ekstra-resistensi terhadap berbagai jenis pelecehan yang amat merendahkannya.

Sejak Muhammad mensosialisasikan “tauhid” di komunitas sekitar Ka’bah Mekah, siang malam ia diejek, dihalangi, dirancang untuk dibunuh, atau dilempari batu seperti ketika ia berimigrasi ke Ethiopia.
Tak hanya teologinya yang ditolak dan dianggap anarkis. “Hak paten” Muhammad atas sumber air Zamzam karena ia adalah cucu penemunya, yakni Mbah Abdul Muthalib: merupakan ancaman terhadap dominasi konglomerat Abu Jahal atas perekonomian Mekah. Selama ini kita terlalu berpikir polos, menyangka bahwa yang diberangus hanya “tauhid”, bahwa yang dihancurkan adalah Islam –- padahal faktor air zamzam, juga tambang minyak, sebenarnya mungkin lebih primer.
Melihat wataknya, soal Agama tak penting-penting amat bagi Abu Jahal. Tapi para anak buahnya terperdaya; mereka pikir “Muhammad” dan “Islam” nya yang menjadi sasaran utama. Sehingga fokus mereka adalah memukuli Muhammad, membuat karikatur untuk memperolok-olokkannya, membikin film yang memperhinakannya, bikin macam-macam games di internet untuk menyebarkan virus kebencian kepada Muhammad.

Beberapa tahun yang lalu di banyak forum Maiyah di berbagai daerah, saya pasang layar untuk menunjukkan gambar-gambar dan video penghinaan itu. Dan saya bertanya kepada semua yang hadir; “Kira-kira kalau Rasulullah melihat tayangan-tayangan penghinaan ini, akan naik pitam atau tersenyum?”
100% hadirin di semua tempat menjawab: “Tersenyum”.
“Apa yang kira-kira diucapkan oleh beliau?”
Jamaah menjawab: “Berdoa, ya Allah ampunilah mereka, karena mereka tidak mengerti apa yang mereka lakukan”.
“Lha kita”, tanya saya lebih lanjut, “akan ikut tersenyum dan berdoa seperti itu ataukah mengamuk, demo, membikin tayangan penghinaan balasan, atau gimana?”
Mengamukpun bisa dipahami, tersenyum juga oke. Demo juga wajar, diam dalam kesabaran juga tidak aneh. Yang mungkin perlu disepakati adalah jangan melakukan apapun yang memang dikehendaki oleh mereka yang memasang ranjau melalui penghinaan itu. Jangan menjelma minyak, karena yang mendatangimu adalah api.

Para penghina Nabi Muhammad itu berjasa besar kepada Ummat Islam, karena repot-repot menciptakan momentum, konteks dan nuansa kekhusyukan agar kita semua lebih rajin menyatakan cinta dan kesetiaan kita kepada Allah dan Muhammad.
Bentuk pernyataan cinta itu bisa batiniah saja, bisa dengan pekikan-pekikan dalam demo, bisa counter-informasi, atau apapun. Yang penting tidak perlu “GR” seolah-olah Muhammad butuh pembelaan kita karena beliau kita anggap lemah dan kita yang kuat. Jadi, pembelaan kita atas Muhammad sasaran utamanya adalah integritas kita sendiri di hadapan beliau dan Allah. Apalagi semarah-marah kita terhadap penghinaan itu, masih jauh lebih murka Allah, sebab cinta kita kepada Muhammad tidak ada sebutir debu dibanding cinta Allah kepada kekasih-Nya itu.
Kaum Muslimin juga diam-diam berterima kasih kepada para penghina Muhammad karena kekejaman mereka adalah peluang sangat indah untuk memaafkan mereka, sehingga derajat kita meningkat di mata Allah. Penghinaan adalah rejeki kemuliaan bagi yang dihina. Ayo, hinalah daku, kau kusayang.
Tahun 2008 bersama musik Kiai Kanjeng saya pentas di distrik dekat rumah Geerd Wilders, Belanda, orang penting dalam kasus film penghinaan atas Islam yang membuat Theo van Gogh dibunuh oleh pemuda Muslim keturunan Maroko. Sebelum atau sesudah pentas kami berniat bertamu ke rumah beliau, tapi tak jadi karena beliau pergi tak jelas ke mana. Kami menyesal karena gagal menyampaikan ucapan terimakasih atas penghinaannya, demi mengurangi dosa-dosa kami.


Dimuat di Kolom, Majalah Gatra No. 51 XVIII 25 –

Reportase "haruskah Syi'ah ditolak?"

Reportase Dialog Publik "Haruskah Syi'ah ditolak" di IAIN Sunan Ampel. Senin, 22 Oct 2012

Ditulis oleh : Red /  BM JATIM 




Dialog Publik bertema “Haruskah Syi’ah Ditolak?” diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Ampel Surabaya dan PMII Komisariat Ushuludin Surabaya pada tanggal 22 Oktober 2012. Acaranya yang sedianya akan bertempat di Aula IAIN Sunan Ampel karena larangan Rektorat, maka kemudian tempat bergeser di Ruang Auditorium Fakultas Ushuludin. Salah seorang Panitia yang tidak mau disebut namanya mengatakan bahwa POLDA melarang keras Acara Dialog tersebut, Panitia juga beberapa kali menerima telpon dari Oknum yang menyebut dirinya POLDA jatim untuk tidak melanjutkan penyelenggaraan acara. Namun Panitia tetap nekat untuk menyelenggarakan acara dengan alasan ini hanyalah diskusi ilmiah yang diselenggarakan di dalam Kampus yang tidak harus ijin kepada Pihak Kepolisian. Bergesernya Tempat penyelenggaraan menyebabkan Panitia Kalang kabut dalam menata properti dan perlengkapan diskusi. Ruangan yang sempit dan kurangnya Sarana Audio serta Ventilasi yang kurang menyebabkan suasana diskusi kurang begitu ideal. Namun suasana diskusi tetap berlangsung meriah dengan segala kekurangan tersebut.

            
Menurut Publikasi Panitia Acara tersebut akan menghadirkan 7 (Tujuh) Narasumber. Tetapi beberapa berhalangan hadir dengan berbagai alasan. Hingga hanya 3 Narasumber yang kemudian hadir sebagai pemakalah; Emha Ainun Nadjib (Budayawan) yang biasa dipanggil Cak Nun, Drs. K.Ng. Agus Sunyoto, M.Pd (Sejarawan NU/Dosen Universitas Brawijaya Malang), dan Prof. DR. Syamsul Arifin (Tokoh Muhammadiyah /Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang).

Pada sesi pertama Cak Nun sebagai pemakalah menekankan untuk membuka cakrawala pemikiran dalam mengukur segala hal. Cak Nun juga berpesan agar tidak salah dalam meletakkan perbedaan.  Apakah perbedaan prinsip atau sekedar khilafiyah. Mengingat kenyataan sekarang, maraknya penganiayaan, tindakan anarkis, bahkan pembunuhan dikarenakan kurang tepat dalam menakar sebuah perbedaan. Perbedaan khilafiyah ditakar sebagai perbedaan akidah. Bahkan produknya difatwakan. Sungguh hal semacam itu sangat mengingkari semangat penghargaan terhadap kehidupan manusia seperti yang dimaksudkan dalam al-Qur’an. “Melenyapkan satu jiwa tanpa alasan yang haq sama halnya membunuh seluruh manusia” cetusnya.

Cak Nun mengurai Khilafiyah dan Ikhtilafiyah dengan memberi contoh-contoh ringan tentang budaya yang terjadi di Masyarakat Muhammadiyah dan NU. Dengan Nada bercanda Cak Nun menyebut warga NU sebagai orang yang boros, "Wong NU ben dino Sholawatan, masio ngerti nek dongane gak mandi sik tetep Sholawatan. Sampek-sampek arek-arek sing penggaweane angon wedus, teplek, jagong nang warung apal karo sholawatan. Nek wong Muhamadiyah khan Efisien bar sembayang trus Ndungo dewe-dewe sampek Gedene Arek-arek Muhamadiyah akeh sing gak isok Ndungo". Pembawaan Cak Nun yang ringan dan penuh Canda membuat Semua hadirin Gembira.

Hal kedua yang ditekankan Cak Nun bahwa Forum Diskusi yang diselenggarakan di IAIN hari itu adalah Forum Intelektual atau   pengkajian keilmuan bukan produk hukum atau fatwa. "Ibarat orang memasak, saya hanya menunjukkan ini Dandang, kompor dan ini jagungnya untuk dimasak. Anda sebagai Ilmuwan silahkan Riset lebih mendalam tentang cara masaknya hingga bisa menjadi hidangan" ulas Cak nun kemudian.

Hal Ketiga Cak Nun menegaskan kembali bahwa yang wajib untuk menyelesaikan masalah Syi'ah dan Kejadian di Sampang adalah Pemerintah beserta Organisasi-organisasi Islam lainnya. Bukan Forum ini atau anda para Mahasiswa. Harusnya Pemerintah, NU, Muhamadiyah dan Organisasi Islam duduk bersama membuat ketetapan perundangan yang jelas tentang Hal ini.

Selanjutnya Agus Sunyoto menggarisbawahi bahwa semua bentuk kekerasan yang ada memang telah di-setting oleh konstelasi konspirasi global. Kepentingan dominasi Amerika dan Israel pasti hadir dalam setiap skenario tersebut. Menanggapi beberapa kasus yang menimpa Syi'ah. Beliau secara implicit menolak tuduhan Syi'ah sesat. Agus Sunyoto mengatakan, “Bagaimana orang Sunni bisa mencap Syi'ah sebagai aliran sesat? Sedangkan Imam Maliki, Imam Hambali, Imam Hanafi dan Imam Syafii menimba ilmu dari Imam Ja’far Shodiq baik secara langsung atau tidak langsung. Imam Ja’far Shodiq adalah salah satu Imam Syi'ah ”. Tambahnya, “Kalau Syi'ah sesat bagaimana dengan ajaran keempat mazhab tersebut ?. Drama-drama seperti itu hanyalah reproduksi dari peristiwa-peristiwa sejarah dengan waktu dan lain tempat semata".

Syamsul Arifin menguatkan pernyataan Agus Sunyoto dengan menyatakan bahwa secara sosiologis “Pembantaian di Sampang” itu bertentangan dengan budaya persaudaraan 'tretan dibi’ (Suadara Sendiri) dalam masyarakat Madura, atau semacam “pela gandong-nya” masyarakat Ambon.

 

Setelah tiga sesi dari nara sumber, Moderator membawa Hadirin masuk sesi tanya-jawab. Sesi ini berlangsung cukup meriah. Nampak banyak Hadirin yang mengacungkan tangan untuk bertanya. Namun Moderator membatasi kesempatan pada tiga penanya.

Penanya pertama, Mahmud S. mengungkapkan bahwa perbedaan Suni dan Syi'ah bukan sekedar perbedaan Ikhtilafiyah, tapi sudah menginjak pada wilayah Ideologi. Penanya Kedua bertanya tentang bagaimana caranya Sesama Umat Muslim bisa saling menghargai. Penanya ketiga menuntut agar forum ini tegas memberikan fatwa Menolak, menerima atau bila tengah-tengah rekomendasinya jelas harus seperti apa.

Setelah ketiga pertanyaan disampaikan Moderator mempersilahkan Cak Nun untuk menjawab pertanyaan tersebut. Cak Nun langsung merespon pertanyaan Ketiga dan pertama dengan membalikkan tuntutan tentang agar pembicaraan ini menelurkan pernyataan Syi'ah ditolak atau diterima. Menurut Cak Nun, Cak Nun juga tidak paham tentang Syi'ah itu Ikhtilafiyah atau Khilafiyah. Menurut Cak Nun bukan kapasitas forum semacam ini untuk menelurkan fatwa menolak atau menerima Syi'ah. Hal semacam ini adalah tanggung jawab pemerintah bersama ulama dan Organisasi-organisasi Masyarakat Islam. Bahkan Cak Nun meminta mahasiswa agar tegas, jangan setengah-setengah.“Bila ingin menolak, ya buatlah surat ke pemerintah agar men-sesat-kan Syi'ah, juga menuntut lembaga bahtsul masail NU atau dewan tarjih Muhammadiyah sekalian untuk itu. Bila perlu dilakukan demo. Atau Sebaliknya. Cak Nun 'ngujo'  dengan memberi tawaran Istidraj agar NU, Muhammad, atau Al-Bayyinat sekalian memfatwakan agar membunuh Syi'ah dimana pun berada kalau berani.

Menjawab pertanyaan Tentang Tolerasi, Cak Nun menandaskan bahwa sejak bayi manusia mempunyai bawaan untuk saling toleran. Dengan nada Guyon Khas Cak Nun memberikan beberapa contoh tentang Tolerannya masyarakat Indonesia. "Bila ada yang menyerang, mengintimidasi Indonesia, maka kita harus membalasnya dengan Cinta. Karena Indonesia Akan memimpin dunia" dengan kalimat Takbir dan Semangat berapi-api Cak Nun berkali-kali mengulang kata-kata "Indonesia akan memimpin Dunia".

Setelah diskusi hampir selesai seorang hadirin dari Ketua Bidang Organisasi al-Bayyinat yaitu Ahmad Bin Zein Alkaff yang sedari awal berada di barisan terdepan angkat bicara dengan Nada tinggi "Adakah kecintaan hadirin kepada Rasulullah, kepada Istri-istri Rosulullah ?" Dan menyambungnya dengan sholawat serta menyatakan bahwa golongan yang mencaci istri-istri Nabi sebagai golongan sesat. Sholawat Ahmad Bin Zein Alkaff disambut dengan pekik keras salah seorang hadirin di Belakang "Ya Husein.. Ya Husein"

Ahmad Bin Zein Alkaff yang juga pengurus Syuriah NU Jatim sekaligus Pengurus MUI Jatim kembali mengeluarkan pernyataannya "Imam Ja'far Shodiq adalah imamnya Ahli Sunnah, bukan Imam yang diklaim oleh Golongan tertentu. Sepuluh fatwa yang dikatakan oleh Perwakilan Muhammadiyah tadi, bahwa sebenarnya MUI Jatim, NU Jatim telah menyatakan bahwa organisasi tersebut adalah Sesat". Pernyataan Ahmad Bin Zein kemudian di-Interupsi oleh Syamsul Arifin, tapi dari belakang ada yang berkata dengan suara keras "Ndak Usah".

Situasi kemudian memanas, semua hadirin berdiri dengan riuhnya. Melihat situasi yang tidak kondusif, Moderator memutuskan untuk mengakhiri Dialog dan meminta Cak Nun Untuk memimpin Doa dan mengakhiri dengan Dialog dengan bersholawat bersama.

Nampak Syamsul Arifin mendekati Ahmad Bin Zein Alkaff dan berbicara empat mata. Sementara Cak Nun mengajak seluruh Hadirin bersholawat. Setelah bersholawat bersama suasana lebih sejuk. Cak Nun kemudian meminta pernyataan hadirin bahwa Forum tersebut aman untuk semuanya. "Forum ini aman, kita saling mengamankan" teriak Cak Nun yang kemudian dijawab oleh Koor Hadirin "Aman".
Kemudian Cak Nun meminta Semua Hadirin berdoa bersama "Untuk supaya Allah menjaga semua Umat Islam didalam perlindungannya Alfatehah. ya Allah yang akan berlaku Hanya Kehendakmu. Inama Amruhu Ida Arada Ayakulallahu Kun Fayakun". Seluruh hadirin pun menjawab dengan "Kunfayakun".

Dan forumpun diakhiri pkl 13.15, meski menurut jadwal yang dikeluarkan Panitia Forum akan berakhir 17.00.
  (Red BM Jatim/Agung tl, Dok Foto: Denny Lensa)

Rekaman Lengkap Diskusi bisa dilihat di Link berkut :
http://www.youtube.com/watch?v=fQhNCKVP4ss&feature=plcp
http://www.youtube.com/watch?v=02Y9IdbtuVw&feature=plcp
http://www.youtube.com/watch?v=obnFq4bMGwc&feature=plcp
http://www.youtube.com/watch?v=Iq_O1s7oflA&feature=plcp