assalamu'alaikum

Assalamu'alaikum

Semua yang ada disini adalah hasil Reportase dari dulur dulur Jamaah Maiyah yang ada di manapun Baik dari Kenduri Cinta(KC) Obor Ilahi(OI) BangBang wetan (BBW) Mocopat syafaat (MS) gambang Syafaat (GS) dan maiyah maiyah lain yng sulit sayaa sebutkan,
Blog ini juga memuat syair ataupun puisi Terutama Milik Cak Nun (Emha Ainun Nadjib).
Blog ini Juga menampung saran dan kritik juga tidak berkeberatan apabila ada saudara atau pengunjung atau teman bahkan musuh sekalipun yang ingin menuangkan ide dan tulisan tulisanya...

04/12/12

Reportase sarasehan Budaya KPK, POLRI, KEJAGUNG, MA, Dan EMHA AINUN NADJIB KIAI KANJENG


Di Atas Hukum ada Akhlak

Menyambut peringatan semangat antikorupsi sedunia yang jatuh setiap tanggal 9 Desember, malam ini (Jumat, 30/10) digelar Sarasehan Budaya di Auditorium STIK-PTIK di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sarasehan yang mewadahi empat institusi negara — KPK, Polri, Kejaksaan Agung, dan Mahkamah Agung – untuk saling menjalin hubungan dalam bingkai nonformal ini turut pula menghadirkan budayawan Emha Ainun Nadjib (yang lebih akrab dipanggil Cak Nun) beserta istri Novia Kolopaking (Mbak Via), kelompok gamelan Kiaikanjeng yang dengan tekun menjalin persaudaraan di dalam maupun di luar negeri melalui musik, kelompok Teater Perdikan, dan budayawan Mohammad Sobary.
Tiga puluh menit lepas dari pukul tujuh malam, Cak Nun dan Kiaikanjeng  mengawali acara dengan mengajak hadirin berdiri untuk bersama-sama menyanyikan Indonesia Raya. Di atas panggung tampak telah hadir pula Busyro Muqqodas, Abraham Samad (KPK), Komjen Nanan Soekarna (Wakil Kapolri), Darmono (Wakil Jaksa Agung), Artidjo Alkostar (Ketua Muda Pidana Umum Mahkamah Agung), Catur Sapto Edy (Wakil Ketua Komisi III DPR), dan Denny Indrayana (Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia).
Cak Nun mengajak hadirin untuk tidak lupa belajar pada kearifan-kearifan sejarah bangsa sendiri. Majapahit, misalnya, bukanlah kerajaan kesatuan yang monolitik melainkan memiliki dialektika tertentu. Pendekatan atas dialektika ini tampak pada produk budaya yang kita miliki, yakni nasi tumpeng dan nasi ambeng. Pada tumpeng, nasi mengerucut dari dasar menuju satu puncak. Pada ambeng, nasi dihamparkan di tampah, tidak ada puncak tidak ada dasar. Raja harus tidak melulu tumpeng dan juga tidak terus-terusan ambeng. Ada momentum-momentum tertentu di mana Raja harus tumpeng, memimpin rakyatnya dengan tegas; dan pada momentum lain Raja juga harus siap untuk menjadi ambeng, ketika dia melebur dalam kebersamaan dengan seluruh rakyatnya.
Raja Majapahit tiap 35 hari (selapan) sekali dengan sepenuh hati mengundang kepala daerah dari Thailand, Laos, Madagaskar, dan dari seluruh penjuru wilayah kekuasaannya untuk berkumpul bersama dalam nuansa kedekatan dari hati ke hati. Sejarah lokal ini bisa menjadi wacana bagi masa depan Indonesia.
“Acara ini memang sangat bisa dicurigai, bisa diasumsikan sebagai bagian dari kecenderungan politis tertentu, bagian dari pragmatisme pencitraan, atau kamuflase. Saya tidak akan ikut berasumsi, karena saya tidak punya kapasitas untuk mengetahui hatinya Pak Samad, Pak Nanan, dan kawan-kawan lain. Di dalam kehidupan manusia ini tidak ada golongan yang benar dan golongan yang salah menurut satu golongan tertentu, karena tiap-tiap golongan sama-sama berada di dalam realitas. Maka, tidak ada yang dinamakan ‘golongan sesat’. Tentang apakah seseorang mencintai atau tidak, misalnya, kita tidak pernah benar-benar tahu. Yang bisa kita tangkap hanyaclue-nya, bukan fakta fisiknya. Saya bisa saja mengatakan yang baik-baik di sini,  tapi apakah ada yang tahu apa yang sesungguhnya ada di dalam hati saya?”
“Yang saya bawa ke sini adalah sangka baik. Saya ber-husnudzon bahwa yang hadir di sini dikumpulkan oleh Tuhan, yang dengan kebenaran dan kesalahannya masing-masing suatu saat akan menjadi patriot.”
Sarasehan Budaya KPK 07
Diva Baranita
Foto oleh Adin (Progress)
Dokumentasi Progress

Kiaikanjeng lalu membawakan Shohibu Bayti, disusul dengan lagu Bendera yang dibawakan oleh kelompok vokal ibu-ibu Kepolisian Diva Baranita.
“Saya sudah keliling ke mana-mana,” lanjut Cak Nun, “dan hanya Indonesia yang punya karakteristik tidak bisa diperdaya, tidak bisa dipecah-belah. Memang bisa diperdaya, tapi sebentar. Pelan-pelan orang Indonesia akan menemukan dirinya sendiri, tidak hanya sebagai manusia tapi juga akan menemukan formula-formula kebersamaan dan sistem kenegaraan yang lebih baik daripada yang pernah ada sebelum-sebelumnya. Orang Indonesia tidak bisa ditipu oleh bule maupun Arab, karena kita lebih menipu daripada mereka.”
Sontak tawa hadirin menghiasi ruangan auditorium berkarpet merah.
Darmono, wakil Jaksa Agung, mengingatkan kembali bahwa korupsi merupakan masalah besar bagi bangsa Indonesia – seperti juga bagi bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu, untuk mampu menanganinya, kita memerlukan dua hal yakni tenaga yang besar dan kemauan yang tak kalah besar.
Sebab, apalah tenaga superbesar jika kemauan tak hadir. Kemauan di sini melibatkan kemauan dari aparatur-aparatur penyelenggara negara yang memiliki kompetensi pemberantasan korupsi dan juga dari seluruh rakyat.
Begitu pula, buat apa kemauan yang besar jika tak mampu menghasilkan tenaga untuk menjalankannya.
“Kita punya tradisi selamatan. Di samping nasi tumpeng dan nasi ambeng seperti yang sudah disampaikan Cak Nun tadi, jangan lupa bahwa kita juga punya nasi golong (nasi yang dibentuk bola sekepalan tangan orang dewasa). Di samping kepemimpinan dan kebersamaan, kita juga butuh adanya kekompakan langkah atau sinergi. Kalaupun secara struktural sudah ada lembaga-lembaga negara yang lengkap, tanpa sinergi pemberantasan korupsi tak akan berjalan baik.”
“Beliau menambahi wacana mengenai nasi golong, “ Cak Nun menanggapi, “Yang saya tangkap adalah semangat dan kepercayaan Beliau bahwa Indonesia bukan hanya harus belajar pada Barat, tapi juga belajar pada nenek moyang. Misalnya belajar pada Kerajaan Majapahit. Gajahmada itu tokoh pemerintahan, sementara Hayam Wuruk berperan sebagai simbol ruhani dan budaya sebagai pemimpin.”
“PT. Pindad sudah ada sejak zaman Singosari, mereka sudah ekspor meriam ke luar negeri. Dalam dunia maritim pun Jawa pernah sangat unggul, dengan ukuran kapal 3,5 kali lipat lebih besar daripada kapal-kapal China. Jadi, kita ini negara yang tinggal mau atau tidak untuk bangkit menjadi diri kita sendiri.”
Sebelum Cahaya dibawakan oleh Diva Baranita, mengantarkan jalannya diskusi ke Wakapolri Nanan Soekarna.
“Yang berada di atas panggung sini adalah yang paling bertanggung jawab atas pemberantasan korupsi. Acara sarasehan budaya ini bukan acara formal, bukan pencitraan, melainkan kesempatan bagi kita untuk bicara blak-blakan.”
Alih-alih membidik logika, dalam pemberantasan korupsi Komjen Nanan lebih menitikberatkan pada hati. Kalau menuruti jalannya logika, besaran gaji yang diterima apartur negara tak mencukupi sehingga ketika ada peluang-peluang untuk korupsi, hampir mustahil untuk menolaknya. Namun ketika hati sudah bicara, akan lain pertimbangannya.
Doa pada setiap apel pagi untuk senantiasa dianugerahkan-Nya hidayah untuk bisa melayani, untuk bisa menjadi polisi yang anti-KKN, merupakan wujud atas upaya menyentuh hati semua pejabat di jajaran Kepolisian. Perkap Nomor 40 yang merupakan penjabaran dari UU Nomor 28/1999 menegaskan bahwa semua anggota Polri dari bintang 4 sampai Bintara terendah merupakan pejabat publik. Setiap mereka disumpah sebagai bentuk pengawasan berjenjang.
“Upaya-upaya sudah ditempuh melalui berbagai cara dan dengan bermacam pendekatan, meskipun faktanya seperti yang bisa kita lihat sekarang. Ini karena kami bukan robot, kami juga berangkat dari masyarakat dengan latar belakang masing-masing. Kami butuh sekali pengawasan. Tolong kami diawasi, dikoreksi, ditegur, dilaporkan — bahkan kepada KPK sekalipun — karena kami manusia biasa yang memerlukan kontrol sosial. Inilah komitmen Kepolisian. Jangan ragu-ragu untuk melaporkan siapapun polisi yang berlaku salah. Jangan mau kompromi dengan mereka, jangan mau dipungli! Saya yakin korupsi bisa diberantas.”
“Saya memohon maaf kalau sampai saat ini masih ada polisi brengsek, masih ada polisi korup. Tolong bantu kami untuk mendukung KPK melaksanakan tugasnya,” tutup Komjen Nanan.
“Pak Nanan ini kesadaran utamanya bukan kesadaran hukum melainkan kesadaran keadilan,” sambut Cak Nun.
“Kita saat ini baru mengenal satu supremasi yakni supremasi hukum, padahal hukum hanya satu bagian saja. Supremasi hukum itu cara berpikirnya para penegak hukum. Kalau DPR sebagai wakil rakyat, sudut pandangnya adalah supremasi keadilan. Sementara itu, yang berlaku di dalam masyarakat adalah supremasi moral. Kalau di tengah jalan kita bertemu dengan seorang anak yang hampir mati kelaparan kemudian kita tidak menolongnya, secara hukum kita tak punya status salah. Namun secara moral, kita telah melakukan kesalahan.”
Cak Nun memberikan contoh-contoh ulah penjajah sejak abad ke-17 dalam mengubah bangsa kita. Dulu, kita berbicara dengan menggunakan hati. Ilmu kawruh kita mengajarkan bahwa hati adalah ratu dan otak adalah perdana menteri. Hari-hari ini, begitu kita menjadi modern, kita menggeser posisi otak sebagai presiden. Kita digiring oleh Belanda untuk menggunakan ilmu otak.
Bahkan dalam term “ratu” pun tatanan pemahaman kita sudah diobrak-abrik sedemikian rupa sehingga saat ini kita mengasosiasikan Ratu sebagai sosok wanita, sementara Raja adalah pria. Padahal Ratu adalah pusat dari sesuatu yang dinamakan Keraton. Maka tak heran jika kita kehilangan fokus tentang kepemimpinan.
Satu nomor lagi disajikan oleh Diva Baranita. Kali ini, Penasaran dari Rhoma Irama — yang menyambungkan diskusi sebelumnya dengan uraian dari panembahan hukumnya Indonesia, Artidjo Alkostar, Ketua Muda Pidana Umum Mahkamah Agung.
Artidjo menyoroti posisi korupsi sebagai extraordinary crime di Indonesia. Oleh sebab itu diperlukan upaya-upaya yang juga extraordinary untuk memberantasnya. Bahkan dalam Konvensi Antikorupsi yang diselenggarakan baru-baru ini di Brazil, ada wacana untuk membawa dan menyelesaikan kasus-kasus korupsi di Mahkamah Internasional saja.
Dalam pemberantasan korupsi, menurut Artidjo, ada lagi hal yang harus ada : kebersamaan seluruh elemen-elemen negara untuk menegakkan nama baik Indonesia, dan juga gerakan penolakan terhadap imunitas yang mengarah pada status ‘tidak dipidana’. Jangan sampai pemberantasan korupsi hanya menyentuh yang di bawah-bawah saja.
“Ke depannya kita mesti menganut prinsip zero tolerance terhadap tindak korupsi.”
Soal korupsi sebagai extra ordinary crime, Cak Nun menanggapi, “Itu kan dalam wilayah hukum. Sementara itu kalau di dalam wilayah moral, korupsi itu ordinary ordinary saja kok.”
“Bahkan sekarang ini ada peningkatan kok. Modus korupsi saja sudah sangat ‘relijius’ istilah-istilahnya. Kalau dulu eranya Angie menggunakan kode apel Malang dan apel Washington, sekarang SMS-nya bisa berbunyi begini: ‘Tolong yang 10% disisihkan untuk kiai, 10% untuk pesantren. Kalau kurang jelas, nanti kita tahlilan di Hotel Sultan’. Maksudnya kiai adalah anggota DPR, sementara pesantren merupakan istilah yang dipakai untuk menyamarkan penyebutan departemen terkait dengan proyek itu. Dan tahlilan, merupakan kode untukmeeting dalam rangka bagi-bagi jatah tadi. Bahkan informasi dari Pak Samad, penyebutan tempat meeting sudah lebih halus lagi, menggunakan istilah maktab.
Cerita Cak Nun ini langsung disambut tawa dari hadirin.
“Jadi kalau kita serius, kata tahlil digunakan untuk rundingan korupsi, itu kan laknat dan pengkhianatan. Tapi di Indonesia dilakukan dengan tenang-tenang. Sama Tuhan pun kita berani korupsi.”
Sarasehan Budaya KPK 09
Kamu ini sekolahnya kebatinan kok ngomong hukum!
Foto oleh Adin (Progress)
Dokumentasi Progress

Setelah satu nomor musik Terbit Rembulan dari Kiaikanjeng, muncul Ruwat Sengkolo, satu tokoh teater Nabi Darurat Rasul Ad-Hoc yang pada awal tahun 2012 telah dipentaskan di beberapa kota.

Dengan iringan musik Dari Sabang Sampai Merauke, Ruwat Sengkolo meneriakkan nyanyian, “Dari Sabang sampai Ternate, berjajar pulau-pulau!”
Ki Janggan masuk panggung sambil memotong musik yang sedang dimainkan, “Apa itu, apa itu, kok gitu. Coba ulang, ulang!”
“Dari Sabang sampai Ternate, berjajar…,” ujar Ruwat, “Maaf, Guru.”
“Kok Ternate?”
“Ampun Guru, saya mendengar Irian Jaya sedang terancam. Kalau kita nggak serius menjaga negara, dia bisa lepas dari tangan kita seperti Timor-Timur dulu.”
“Justru karena itu lirik lagunya harus tetap ‘Dari Sabang sampai Merauke’. Kamu sebagai generasi penerus harus meneguhkan nasionalisme.”
“Siap Guru! Hidup matiku untuk NPKRI!”
“Lho kok NPKRI?”
“Negara Persatuan dan Kesatuan Republik Indonesia, Guru.”
“NKRI!”
“Ampun Guru, selama ini Guru mengajariku berpikir utuh. Persatuan dan kesatuan tak bisa dipisahkan. Pidato semua pemimpin kita tidak pernah menyebut persatuan dan kesatuan sebagai terpisah. Persatuan harus kesatuan, kesatuan harus persatuan.”
“Ya, ya, ya… Kamu berpikir utuh dan logis, tapi tidak lazim, tidak umum. Yang lazim dan konstitusional itu NKRI, negara kesatuan dari beragam-ragam suku dan golongan.”
“Siap Guru! Bhinneka Manunggal Ika!”
“Bhinneka Tunggal Ika!”
“Ampun Guru, yang Tunggal itu hanya Tuhan. Kalau manusia itu manunggal, menyatu, nyawiji kata orang Jawa.”
“Sudah terlanjur Tunggal Ika, jangan macam-macam.”
“Tunggal itu satu-satunya, the only. Tuhan Yang Maha Tunggal, bukan Tuhan Yang Maha Esa. Kalau esa itu bisa diteruskan ke dua, tiga – seperti bahasa Tagalog : Esa, Dalawa, Tatlu, Apat, dan seterusnya. Kalau Tunggal, tidak ada ‘dua’-nya, tidak ada ‘tiga’-nya.”
Terdengar derap suara sepatu lars menjejak lantai dalam langkah-langkah tegap. Ruwat dan Ki Janggan menepi.
“Saya Gaspol! Saya petugas kepolisian. Saya penjaga konstitusi dan penegak hukum. NKRI itu harga mati. Yang menentang NKRI, harganya : Mati! Sudah jelas cetho welo-welo, kata NKRI disebut secara tegas dalam teks Proklamasi dan UUD ’45. Barangsiapa melawan, berhadapan dengan Gaspol!”
Usai menyampaikan pesannya, Pak Gaspol kembali menghilang dari panggung.
“Itulah sebabnya Guru, sila pertama adalah ‘Tuhan Yang Maha Tunggal’.”
“Apa-apaan kamu. Sila pertama itu ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’.”
“Ampun, ampun, Guru mengajarkan kepadaku untuk berpikir jernih. Ketuhanan itu sifat. Tuhan itu subyek, maha subyek. Yang disembah oleh seluruh bangsa kita bukan hanya sifat Tuhan, tapi Tuhan sendiri.”
“Ruwaaaat! Pikiranmu berbahaya dan semakin sesat.”
“Kita menyembah Tuhan, bukan ketuhanan. Bendera kita Merah Putih, bukan kemerahan dan keputihan.
Tiba-tiba terdengar suara terkekeh-kekeh dari belakang panggung. Lalu muncul sosok Pak Jangkep, ayah dari Ruwat Sengkolo.
“Keputihan, keputihan, sembelit!”
Ki Janggan dan Ruwat kaget oleh kedatangan Pak Jangkep. Masing-masing menyapa. Ruwat membimbing tangan bapaknya.
“Mohon maaf Pak Jangkep, saya merasa salah telah menjadikan Ruwat seperti anak yang salah didik.”
“Salah asuhan. Saya juga salah dalam mengasuh anak ini.”
“Saya tidak pernah mengajarkan semua yang dia omongkan tadi.”
“Kalau mikirmu seperti itu, lama-lama kamu bisa jadi teroris, Ruwat!”
“Guru pernah mengajarkan bahwa pikiran kita memerlukan teror supaya dinamis dan kreatif.”
“Maksudku bukan teror pikiran, tapi teror… ya terornya teroris itu lho!” jawab Pak Jangkep.
“Pak Jangkep bapakmu ini was-was, Ruwat, jangan sampai kamu melanggar hukum. Negara kita ini negara supremasi hukum.”
“Ampun Guru, hukum itu mutlak penting, tapi letaknya paling bawah. Kalau kita tidak menolong orang yang menderita, kita tidak dipersalahkan oleh hukum. Koruptor harus dihukum, tetapi kalau petugas hukum tidak menghukum koruptor, atau pura-pura tidak tahu bahwa atasannya terlibat tipikor, petugas itu tidak dihukum oleh hukum.”
“Kamu ini sekolahnya kebatinan kok ngomong hukum!”
“Kamu ini sedang menuduh ada petinggi yang korupsi tapi bebas hukuman, begitu?” tanya Ki Janggan.
“Bukan Guru, yang saya bicarakan ini soal supremasi. Yang berpikir supremasi hukum itu petugas negara. Tapi kalau rakyat, berpikirnya harus supremasi keadilan. Kalau masyarakat, fokusnya supremasi moral.”
“Owalaah Ruwaaat…Ruwaaat.. Kamu ini penganggur, makan saja sering masih minta-minta, kok sempat-sempatnya mikir hukum,” ujar Pak Jangkep.
“Justru karena ndak punya kerjaan maka murid saya ini pikirannya ngomyangke mana-mana, Pak Jangkep.”
“Bahkan, seharusnya, Jaksa jangan hanya pandai mencari kesalahan. Jaksa juga harus pinter mencari kebenaran.”
“Jaksa kok disuruh cari kebenaran. Terus isi tuntutannya apa?”
“Mungkin maksudnya Ruwat, Jaksa ke pengadilan tidak hanya menyeret terdakwa kejahatan, tapi bisa juga terdakwa kebaikan. Kalau terbukti jahat, Hakim menghukum. Kalau terbukti baik, Hakim memerintahkan kepada pemerintah untuk memberinya hadiah.”
“Aslinya memang begitu. Hakim di Pengadilan, modal utamanya bukan pasal-pasal hukum melainkan rasa keadilan dan keteguhan moral. Sangat mungkin manusia melakukan kesalaan yang belum ada pasal hukumnya. Buah catur saja yang jumlahnya hanya 32, punya 114 juta kemungkinan langkah. Lha kalau buah caturnya sebanyak penduduk Indonesia, 235 juta, berapa trilyun probabilitas pelanggaran hukumnya? Maka Hakim harus selalu siap menciptakan pasal-pasal baru berdasarkan kejujuran nuraninya, rasa keadilan dan keteguhan moralnya.”
Muncul lagi dari belakang panggung Pak Gaspol, kali ini lebih garang. Yang lain kembali menepi.
“Ini negara supremasi hukum! Jangan ditambah-tambah dengan supremasi-supremasi macam-macam lainnya. Hukum thok saja sudah repot! Saya anggap, semua yang di luar supremasi hukum adalah pelanggaran hukum. Dan saya akan bertindak tegas. Hukum itu tidak pandang bulu, hukum itu buta kulit, buta warna, bahkan kalua perlu buta huruf. Tidak peduli Syiah, Si B, Si C, Silalahi, Sikeas, kalau diduga melanggar hukum, akan saya panggil, saya periksa!”
Pak Gaspol lantas berjalan melintasi para narasumber, lalu memandangi deretan personil Kiaikanjeng, “Siapa kere-kere ini? Ati-ati, jaga kelakuannya. Nanti saya pilih siapa yang teroris di antara kalian!”

Penampilan spesial dari Kelompok Teater Perdikan ini disambung dengan sajian lagu Sepinya Hati Garuda dari Mbak Via, sebuah lagu yang pernah dibawakan pada saat pementasan teaterTikungan Iblis pada November 2008.
Sepinya hati Garuda
Dijunjung tanpa jiwa
Menjadi hiasan maya
Oleh hati yang hampa
Dendam tanpa kata
Mendalam luka Garuda
Disayangi tanpa cinta
Dipuja tapi dihina
Pada sarasehan budaya ini Busyro Muqoddas menyoroti satu hal yang harus ada dalam pemberantasan korupsi, yakni niat. Perlu sekali untuk terus-menerus direnungkan niat seperti apa yang sebenarnya sedang mendasari gerakan pemberantasan korupsi – baik di institusi-institusi negara maupun di masyarakat. Ada apa saja di balik semua gerakan tersebut.
“Acara ini pun dapat terselenggara berkat niat baik dari Mabes Polri, Kejaksaan Agung, MA, dan KPK yang tahun lalu telah sukses menggelar acara serupa di kampus Taman Siswa Yogyakarta.”
“Kalau sudah ada niat baik, ada jalan-jalan keluar. Niat baik, diproses dengan baik untuk tujuan yang baik, akan menghasilkan sesuatu yang baik pula.”
“Korupsi sekarang ini telah menyebabkan kemiskinan struktural. Orang-orang yang sudah miskin masih terus dimelaratkan oleh korupsi. Kemelaratan ini pada gilirannya juga melahirkan korupsi struktural. Untunglah DPR membuat KPK. Pak Catur pernah mengatakan, ‘MbokyaKPK ini menyadari kalau DPR ibarat bapaknya KPK’. Betul memang itu, tapi Pak Catur dari Komisi III DPR pasti juga ingin kalau anaknya jadi sholeh kan. Dan Alhamdulillah, Revisi UU KPK akan dicabut.”
Selebihnya Busyro Muqoddas merayakan kemesraan dengan sahabat lamanya, Cak Nun, dengan saling ejek.
“Revisi UU KPK tidak jadi, itu belum berhenti. Atas niat apa pencabutan itu, itu yang penting. Ada apa di balik pencabutan, mesti juga dikaji,” Cak Nun menanggapi, “Jangankan menangani hukum, shalat saja ada tiga tingkatan niat, yakni tingkat kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Kebenaran memanifestasi dalam rukun-rukun sholat, kebaikan dalam niatnya, dan keindahan dalam kekhusyukannya. Kalau Anda tidak khusyuk pada Allah, Dia akan membatalkan kebenaran dan kebaikannya.”
“Anak cucu kita akan mengalami mercusuar. Untuk optimisme, saya membabi buta. Jatuhayok, tapi saya akan terus bangkit lagi! Pokoknya apapun yang terjadi, kita optimis bangkit lagi.”
Sesuai dengan optimisme yang dibawa Cak Nun, Kiaikanjeng membawakan satu nomor berjudul Putra Masa Depan. Selepas itu, Catur Sapto Edy dari Komisi III DPR menyampaikan rasa bahagia atas terselenggaranya Sarasehan Budaya ini, sebuah wadah untuk berkumpul dan bertukar pikiran tapi dalam suasana nonformal.
“Ternyata hukum formal tidak dapat menjadi jaminan. Kalau dengan istilah Cak Nun, di atas hukum ada akhlak. Kalau kita mengedepankan akhlak, ribut-ribut di belakang tak akan terjadi.”
Catur berpendapat bahwa yang bermasalah di Indonesia adalah para elitnya, sementara rakyat tak terlalu bermasalah dengan masalah-masalah yang ada. Bedakan saja dengan rakyat US yang marah-marah pada pemerintah hanya karena aliran listrik putus setelah badai Sandy menerjang. Padahal di sini, mati listrik sudah menjadi hal yang biasa-biasa saja.
Berdasar hasil penelitian mengenai global happiness, dari 24 negara Indonesia merupakan negara dengan jumlah rakyat yang paling banyak merasa bahagia. Sebagai perbandingan, berikut ini beberapa angka statistiknya: Korea Selatan (7%), Jepang (18%), India (40%), Mexico (43%), dan Indonesia (51%).
Menurut Catur, yang paling jahat dari tindakan korupsi adalah korupsi perundang-undangan. Misalnya UU Migas yang mengatur proporsi gas untuk konsumsi dalam negeri maksimal 25%, sementara migas dengan kualitas unggul justru dilarikan ke luar negeri dalam jumlah yang sangat besar. Pernah ada temuan, korupsi dari satu KPS mencapai 2,3 Milyar Dollar. Ini baru dari satu KPS.
“Salah satu kelemahan rakyat Indonesia adalah kekuatan mereka – pada konteks tertentu,” ujar Cak Nun, “Dicuri, ditempelengi, dibohongi, tetap tahan. Rakyat-rakyat di dunia mengalami guncangan-guncangan, tapi tidak dengan rakyat Indonesia. Pemerintah boleh jatuh, tapi rakyat tetap kuat.”
“Kalau dibilang bahwa para elit telah berbuat jahat pada rakyat, tidak juga. Mungkin kita butuh pemerintah yang jauh lebih kejam karena kita justru akan merasa heran ketika pemerintahnya baik. Beruntunglah yang menjadi golongan elit, karena mereka tidak pernah dituntut apapun oleh rakyat Indonesia.”
“Manusia Indonesia jangan pernah ditindas, karena yang menindas yang akan kalah. Sebab,katuranggan manusia Indonesia adalah tanah, diinjak-injak tak masalah. Saya kira, Tuhan sengaja menciptakan manusia hibrida bernama manusia Indonesia. Yang jelas yang begini ini bukan manusia biasa. Entah campurannya apa – mungkin setan juga.”
Hadirin kembali ger-geran.
Sarasehan Budaya KPK 12
Sarasehan Budaya KPK Polri Kejaksaan MA
Foto oleh Adin (Progress)
Dokumentasi Progress

“Sekarang Amerika baik-baik sama kita karena dia takut melawan rakyat Indonesia. Melawan SBY sangat gampang, tapi melawan rakyat? Pemerintah hanya anaknya bangsa.”
Denny Indrayana mengaku hadir dalam sarasehan ini di samping karena ingin melihat suasana harmonis antara para penegak hukum, juga karena rasa kangen terhadap Cak Nun dan KiaiKanjeng. Mengenai gesekan yang pernah terjadi antara KPK dengan institusi lain, ada hal yang harus diingat, yakni bahwa di dalam KPK sendiri ada Kepolisian dan Kejaksaan.
Pemberantasan korupsi tak bisa berjalan, apalagi dalam wilayah-wilayah yang sulit disentuh, jika KPK bergerak tanpa dukungan pihak-pihak lain.
“Semoga di luar forum semacam ini, ketika ada kasus korupsi baru yang ditangani KPK, yang sama-sama kita lawan adalah koruptornya, bukan tergantung pada institusi asalnya. Demokrasi dan korupsi bukanlah kawan, melainkan lawan. Meskipun masih ada banyak sekali kasus korupsi, upaya pemberantasan korupsi Indonesia menempati urutan nomor 8 di dunia. Ini menunjukkan bahwa kita sedang berbuat, tidak diam saja.”
Mohammad Sobary, yang lebih akrab dipanggil Kang Sobary, menitikberatkan bahasan pada ulah negara-negara Eropa dan Amerika dalam membuat citra Indonesia buruk di mata dunia, sambil mereka melakukan lobi-lobi politik untuk mengeruk sebanyak-banyaknya kekayaan Indonesia. Hal ini yang kemudian memperparah kerusakan yang sudah ada.
Mereka menciptakan ukuran-ukuran untuk menggiring Indonesia sampai pada kesimpulan bahwa kita tidak bisa mengelola. Lalu mereka datang, mengajarkan metode pengelolaan, sambil merampok aset-aset negara. Perbankan, pertambangan, perkebunan, dan bidang-bidang lainnya dikuasai asing. Alfamart dan Indomaret ada di setiap gang, sementara pada saat yang sama orang-orang miskin di sepanjang jalan dipaksa puasa.
“Tulus atau tidak tulus itu tidak penting, yang penting ada tindakan-tindakan nyata dalam memberantas korupsi.”
Sebagai kalimat pamungkas, Kang Sobary memilih kutipan dari Hamlet, “Zaman edan, terkutuklah nasibku karena aku lahir untuk meluruskanmu!”
“Pak Sobary memberi PR kepada kita,” Cak Nun menanggapi, “Tiga jam tadi kita ngomonginpencurian oeh anggota rumah tangga di dalam rumah. Pak Sobary mengingatkan pada provokasi tetangga-tetangga. Saya kira kita perlu formasi tokoh-tokoh yang lebih luas. Kita akan ngomongmengenai penjajahan global. Mudah-mudahan akan ada forum yang mewadahi kajian semacam ini.”
“Bukan setelah ada acara ini lantas penanganan korupsi akan lebih baik, karena Tuhanlah pelaku utama.”
“Perkara tulus atau tidak, Pak Sobary, di dalam olahraga ‘tulus’ ini dikenal sebagai ‘sportif’, di dalam keilmuan namanya ‘obyektif’, di dalam kesenian ia adalah ‘pas’, dan di dalam agama ia disebut ‘jujur’. Kalau tidak tulus, tidak akan tindakannya menguntungkan rakyat; karena ketika ‘yang seolah-olah’ yang ditanam, yang kita panen adalah wajah aslinya. Meskipun yang dimaksud Beliau tadi adalah dalam konteks pragmatisme hukum.”
Memasuki pukul sebelas malam, Cak Nun kemudian meminta Kiaikanjeng, Diva Baranita, para narasumber, dan juga hadirin untuk bersama-sama menyanyikan medley Nusantara. Potongan-potongan lagu daerah Bali, Jawa, Nusa Tenggara, lagu nasional, lagu Papua, China, Maluku, Riau, Sunda, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, paduan Jawa-Arab, bahkan lagu pop Barat dirangkai apik dengan iringan gamelan, dan dipuncaki dengan Ya Laitany-nya Ummi Kultsum.
Are kijang jange janger kopyak epong
Kopyak sede, kopyak sede pade dopong
Siyar siyer, ngiring mejangerang dijabel tengahe
Tak lelo lelo lelo ledhung, cup menengo anakku sing ayu
Tak emban nganggo jarik kawung
Yen nangis mundhak Bapa Biyung
Bolelebo, itanusa lelebo
Malole si malole, itanusa si malole
Baik tidak baik, tanah Timor lebin baik
Tanah airku tidak kulupakan,
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh,
Tidakkan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai, engkau kuhargai
He yamko rambe yamko, aronawa kombe
He binokibe kubano kebombeko
Yumano bungo awe ade
Hongke hongke, hongke rio
Hongke jambe, jambe rio
Ni inkai femi diwo tiai, wo can wo can wo tanni tan hai
Pu yen wan wan, fu yen fangsi tanii tan hai
Sholawatullahi ‘alaik
Kota Ambon ibu negri tanah Maluku
Di pinggir pantai tempat kita bertedu
Bulan terang menerangi tepinya pantai
Kudengar bunyi sewara tifa ramai ramai
Lancang kuning, lancang kuning, berlayar malam,
Hai berlayar malam
Haluan menuju, haluan menuju ke laut dalam
Lancang kuning berlayar malam
Mesat ngapung luhur jauh di awang-awang
Meberkeun janjangna bangun taya karingrang
Kukuna ranggaos reujeung pamatukna ngeluk
Ngepak mega bari hiberna tarik nyaruwuk
Manuk dadali, manuk panggagahna
Perlambang sakti Indonesia jaya
Manuk dadali pang kakoncarana
Resep ngahiji rukun sakabehna
Cik cik periuk bilangan sumping dari jawe
Datangnya kecibuk bawa keciping dua ekor
Cak cak bur dalam belanga,
Picak hidung gigi ronga
Sape kitawa dolo dipancung raje tunggal
There’s a place in your heart
And I know that it is love
And this place could be much brighter than tomorrow
And if you really try, you’ll find
There’s no need to cry
In this place, you’ll feel
There’s no hurt or sorrow
There are ways to get there
If you care enough for the living
Make a little space
Make a better place
Heal the world, make it a better place
For you and for me,
And the entire human race
There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place for you and for me
Anging mamiri kupasang, pitujui tonton ngana
Tusarua tak kalupa
E aule manangurangi, tutenaya tutenaya parisina
Malolorang, malolorang jene mata
Wa makaru wamakarollah, wallohul khoirul makirin
Kalau setia mendapat surga, kalau durhaka dapat bencana
Wamaro-aita idz romaita, walakinalloha roma
Memilih surga atau neraka, seratus persen urusan Anda
Imagine there’s no heaven
It’s easy if you try
No hell bellow us, above us only sky
Imagine all the people living for today
Imagine there’s no country
And no religion too
Imagine all the people living life in peace
You may say, I’m a dreamer,
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us, and the world
Will be as one
Yaa Laitana….
Tho-iron nal hu bir-roudhi fii sarkhihil hasbibi2x
Walaitana zahrotani tahfuhu ‘ala syafa jadwali la’uubi
Selepas itu, Cak Nun mengajak para narasumber dan hadirin untuk memasuki wilayah yang musik tak mampu lagi menjangkaunya. Dengan khusyuk, doa-doa dipanjatkan satu-satu, demi kebaikan bersama.
Jakarta, 1 Desember 2012

18/11/12

KAUM MUDA MASA DEPAN BANGSA

Kaum Muda Masa Depan Bangsa

Negara Indonesia disangga oleh lima pilar, bangsa Indonesia memiliki “alam takdir”, watak khas kemanusiaan dan kekayaan budaya yang merupakan bahan sangat menggiurkan untuk membangun peradaban penerang dunia di masa depan. Arab Spring yang kini sedang dilangsungkan oleh “sekutu penguasa bumi” meletakkan Indonesia sebagai sampel atau rujukan utama untuk “membangun demokrasi di Negeri mayoritas Muslim”. Di antara enam nominator, Indonesia yang utama, sementara Iran Turki urutan terbawah.

Sebenarnya terserah masing-masing untuk mengambil sisi yang mana dalam menilai bangsa Indonesia. Boleh pilih hipotesis bahwa bangsa ini sengaja dikubur kenyataan sejarah masa silamnya, sehingga penduduk bumi hanya mengenal Yunani Kuno, Mesir Kuno, Mesopotamia, atau Inka Maya. Statemen Santos Brazil bahwa Negeri Atlantis tak lain adalah nenek moyang Nusantara tidak boleh dilegalisir secara ilmiah.

Yang punya duit dan yang mengolah duit di abad ini adalah keturunan dua kakak beradik, yakni Ismail dan Ishaq, putra Mbah Ibrahim. Sementara di bawah tanah sedang mulai diyakini bahwa Ibrahim adalah anak turun Bangsa Nusantara yang lahir oleh salah seorang putra Nuh. Salah satu pendekatan ilmu menduga Adam adalah produk hibrida makhluk abu-abu, sementara manusia Nusantara adalah hibrida yang lebih “gawat”; blasteran antara ekstrem densitas positif dengan ekstrem densitas negatif.

Maka manusia Nusantara memiliki kenekadan hidup melebihi manusia bangsa manapun di muka bumi. Kata “nekad” tidak ada padanan bahasanya. berani merundingkan rencana korupsi ketika air wudlu belum kering. “Tolong yang 10% dikasih para Kiai, yang 10% dihibahkan ke Pesantren, jelasnya nanti kita tahlilan di Hotel X tanggal sekian jam sekian….”. Yang dimaksud para Kiai adalah anggota DPR tertentu yang terkait dengan proyek yang sedang akan disunat. Pesantren adalah pejabat Kementerian yang merupakan jalur proyek itu. Tahlilan maksudnya adalah meeting untuk pembagian apel Malang, apel Washington dst yang kemudian diubah idiomnya dengan kata-kata dari tradisi budaya Islam.
Bangsa nekad berani kawin tanpa punya kerjaan. Berani kredit motor ketika hutang yang dari kemarin masih bertumpuk. Berani naik menara tinggi pakai sandal jepit sambil merokok tanpa tali pengaman. Berani naik atap kereta api ratusan orang sekaligus tanpa berpegangan apa-apa. Kalau sudah tertangkap korupsi langsung pakai peci atau kerudung dan jilbab, begitu duduk di kursi pengadilan sudah nenteng tasbih di jari-jemarinya. Bangsa yang tidak kunjung hancur oleh krisis-krisis perekonomian, tetap menang kontes tertawa dan tersenyum sedunia, industri kuliner melonjak ekstrem, kampung-kampung dan jalanan tetap memancarkan kehangatan hidup.

Ada ratusan lainnya contoh ketangguhan manusia Nusantara. Ketangguhan, keanehan dan kegilaan. Tidak sekedar memiliki kesanggupan untuk mengalihkan area hujan cukup dengan sapi lidi dan cabe merah, atau memakelari peluang cium Hajar Aswad di tengah jejalan ratusan ribu orang berthawaf mengelilingi Ka’bah. Akan tetapi sisi itu boleh dianggap isapan jempol dan khayalan untuk menghibur-hibur diri dari kebrengsekan kehidupan bernegara yang tak kunjung usai. Setiap orang berhak ambil sisi lain: Bangsa Nusantara adalah Garuda yang sangat jinak dan berkekuatan Emprit: bisa dijajah ratusan tahun oleh beberapa peleton Satpam sebuah perusahaan Negeri Belanda…
.
Ada yang berpikir kontekstual: ayam tak mungkin melakukan pekerjaan burung, tapi burung juga jangan melakukan kebangkitan ayam. Kalau bangsa Indonesia adalah Garuda, kebangkitannya harus bervisi Garuda. Kalau bangsa Indonesia tidak tahu siapa dirinya, bagaimana mendisain kebangkitannya.
Tetapi ada juga yang berpikir universal dan esensial: terserah siapa kita dan siapa nenek moyang kita, pokoknya hari ini kamu punya potensi apa, kembangkan secara maksimal dengan kerja keras dan ketekunan.

Kita kembali close-up menatap diri. Bangunan NKRI disangga oleh lima pilar. Pilar pertama, yakni yang utama, sangat besar, tinggi dan berada di tengah bangunan, adalah rakyat.
Empat pilar lainnya, yakni kedua: Kaum Intelektual. Untuk konteks Negara modern disebut Kelas Menengah. Wilayah perannya: Legislatif, Eksekutif, Yudikatif, dan Pers.
Pilar ketiga, Tentara Rakyat. Sekarang TNI dan Polri. Pilar keempat, Kraton-kraton dan kekuatan kebudayaan. Pilar kelima, intitusi Agama-agama dan bangunan spiritualisme.
Pada era awal kemerdekaan hingga menjelang akhir 1950an,  terdapat keseimbangan yang lumayan di antara lima pilar itu. Kemudian mengerucut ke “Aku Sukarno”, lantas pada 1965 dijebol oleh strategi “anak petani” Suharto yang mempersiapkan kekuasaan sejauh tujuh tahun lebih sebelumnya. Untuk kemudian mendayagunakan Pilar Ketiga, dengan membonekakan Pilar Kedua dan mengebiri Pilar-pilar lainnya.
Suharto dengan Pelita 5×5 tahun, pupus di tengah jalan, sesudah ia menggeser landasan kekuatannya dari “merah putih” ke hijau, dari ABRI merah putih Ali Murtopo Beny Murdani ke ABRI hijau Hartono, dari Merah Putih Golkar ke embrio politik hijau melalui persemaian ICMI. Kekuasaan global yang menguasai bumi punya “pasal”: Indonesia silahkan maju dan jaya perekonomiannya, bahkan boleh berkibar Tri-Sakti (politik, ekonomi dan kebudayaan)nya, asal jangan “pakai peci”.

Karena pergeseran warna Suharto dari merah putih ke hijau, dari Suharto abangan ke Haji Muhammad Suharto, dari “Islam Jawa” ke “Jawa Islam”, ditambah sejumlah variable lain, maka Reformasi direkayasa untuk menjatuhkannya. Mahasiswa dan Kelas Menengah intelektual dibusungkan dadanya di-casting jadi pahlawan yang mampu menggulingkan Suharto, serta dibikin tidak ingat bahwa mereka tidak mampu menggulingkan Gus Dur, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono. Sambil disibukkan dengan sensasi budaya tawur dan euforia peradaban busa-busa intertainment.

Suharto lengser, tenang-tenang menyiram kembang di Cendana dan merokok “klobot”, tidak minta suaka ke luar negeri, tidak di demo di RT-RWnya, senyum-senyum melihat Reformasi, perih hatinya melihat anak-anaknya, menyesali Ilmu Pranatamangsa dan Ilmu Katuranggan yang sanggup ia terapkan dalam menguasai Indonesia selama 32 tahun, namun tidak sedikitpun ia mampu mengaplikasikan di keluarga kecil Cendananya.

Suharto benar-benar “ora petheken” selama tidak menjadi Presiden di sisa hidupnya. 16 bom di 8 pom bensin dan 8 titik jalan tol seputar Jakarta Kota dia acuhkan, padahal siap mengamankan Istana dan kekuasaannya kalau ia kasih kode dalam pertemuan 19 Mei 1998 di Istana Negara. Bahkan Suharto membuka dada dan tangannya dengan “4 Sumpah”: “Pertama, saya, Suharto, mantan Presiden RI, bersumpah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan rakyat Indonesia bahwa saya tidak akan melakukan apapun untuk menjadi Presiden lagi. Kedua, untuk turut campur dalam pemilihan Presiden. Ketiga, siap diadili oleh Pengadilan Negara untuk mempertanggungjawabkan kesalahan-kesalahan saya selama menjadi Presiden. Keempat, siap mengembalikan harta rakyat berdasarkan putusan Pengadilan Negara….”
Ia tahu tak akan pernah diadili. Hanya dikutuk, dibenci dan dirasani. Sebab kebanyakan orang Indonesia ingin menjadi dia, calon-calon penguasa bukan anti-Suharto, melainkan ingin menggantikan dan memperoleh laba, keenakan dan kenikmatan yang ia peroleh 32 tahun. Maka ia tidak lari ke mana-mana, jangankan ke luar negeri, pindah RT-pun tidak. Ia tenang sembahyang, secara resmi mengangkat seorang Imam untuk memandunya berwirid husnul khatimah.

Akhirnya ia dipanggil Tuhan, meninggalkan rakyat Indonesia yang makin kebingungan menentukan Sukarno itu baik atau buruk, Suharto itu benar atau salah, sebenarnya mana rujukan masa depan kita: Orde Lama, Orde Baru ataukah Reformasi. Bahkan para penganut substansialisme hampir pecah kepalanya tak bisa menjawab SBY ini beneran Presiden atau Presiden-presidenan terbuat dari plastik. Sambil bersedih hatinya: dulu kita muak pada Bung Karno, tapi tetap bangga kepadanya. Dulu kita benci Suharto, tapi tidak sampai berani melecehkan bahkan menghinanya, sebagaimana sekarang orang melakukan pelecehan dan penghinaan itu di berbagai media bebas maupun di jalanan-jalanan.

Apalagi kalau melihat lebih spesifik dan detail — misalnya — atas pertimbangan keguru-bangsaan apa Bung Karno membubarkan HMI dan begitu dekat dengan PKI. Atas pertimbangan masa depan yang bagaimana Pak Harto menyimpan sejumlah rahasia 1998, termasuk sampai wafatnya tidak mengizinkan buku “Lalu lintas Keuangan Cendana” diterbitkan. Sebagaimana HB-IX juga sampai wafat beliau menolak membuka rahasia tentang fakta Perjuangan 1 Maret 1949, tentang peran Suharto yang sebenarnya.
Kita bangsa Indonesia tidak mau disiksa terus menerus oleh kebingungan, sehingga yang penting sekarang di tempat masing-masing kita sibuk “cari untung”. Kita manusia Indonesia memfokuskan diri pada tema-tema kecil, sekunder dan parsial. Karena yang besar-besar hampir mustahil diidentifikasi dan dielaborasi, serta tak mencukupi bahan-bahan sejarahnya. Juga tidak akan populer.

Akan tetapi kita jangan mati dengan melepas anak-anak kita buta tak tahu belakang dan tak mengerti depan. Sebenarnya saya gembira dan optimis hampir tiap malam di berbagai wilayah saya berjumpa dengan ribuan anak-anak muda yang berjuang menyembuhkan kebutaan hidupnya. Penduduk Indonesia sekarang rata-rata usianya adalah 27,5 tahun. Dan yang saya jumpai sejauh saya berkeliling ke pelosok-pelosok sejak hari kedua Suharto jatuh, adalah para pemuda usia tersebut dengan sorot mata yang aneh.

Aneh karena muatan orisinalitasnya. Mereka tidak hancur oleh ketidak-menentuan keadaan Negaranya. Mereka tidak semena-mena bisa dicuci otak dan mentalnya oleh industri disinformasi dan peradaban hiburan kekonyolan. Anak-anak muda Nusantara sedang mempersiapkan kebangkitannya. Ada gerakan 1 juta petani muda, ada eksperimentasi-eksperimentasi keIndonesiaan di segala bidang. Pelan-pelan tapi pasti akan lahir kaum muda visioner dan expert, dengan atau tanpa profesionalisme kependidikan. Nutrisinya meningkat, daya akuntansinya makin tajam, ‘militerisme atas diri sendiri’ atau kedisiplinan dan kesungguhannya lahir serius, di dunia maya mereka juga sangat mengincar supremasi. Bahkan sejarah hari esok Indonesia tidak bisa mengelak dari pemikiran-pemikiran baru kaum muda untuk mentransformasikan ketatanegaraan NKRI dan men-saleh-kan konstitusi dan hukumnya.

“Saleh” adalah kebaikan yang dihitung dan disimulasikan sedemikian rupa sampai manfaatnya maksimal dan mudaratnya minimal.
Telah dimuat Kolom Opini, Harian Kompas, Sabtu, 17 November 2012

REPORTASE MAIYAH BANGBANGWETAN OCTOBER 2012


Reportase BangBangWetan 31 Oktober 2012
“Belajar Takeran Rahmatan lil ‘Alamin”

“Kamu pikir Allah hanya membuat kehidupan yang begini saja, ada beribu-ribu lapis dimensi kehidupan dengan teater dan skema keaktoran yang bermacam-macam yang kamu tidak mengerti takarannya. Maka bekal orang hidup adalah rendah hati bahwa sangat banyak yang tidak kamu ketahui dibanding yang kamu tahu”–EAN-



Forum ­­­Bangbang Wetan dengan tema “Takeran” ini dibuka Mas Amin sebagai moderator dengan memanggil teman-teman pengurus BangbangWetan diantaranya Mas Agung Trilaksono, Mas Hari Widodo, Mas Rachman, untuk memberi review pengajian PadhangMbulan yang berlangsung malam sebelumnya. Dilanjutkan dengan memaparkan pengantar mengenai tema yang diangkat BangbangWetan malam ini, yaitu "Takeran". Menurut Mas Hari, “takeran” di sini berasal dari kata "menakar". Dia mencontohkan akhir-akhir ini banyak kejadian seperti kerusuhan Lampung, kejadian Syiah di Sampang, dan lain-lain itu dikarenakan kurang tepatnya kita menakar persoalan.

Sesuai tema tadi,Mas Rachmad, sebagai moderator sesi diskusi selanjutnya, melanjutkan forum ini dengan memanggil Mas Waldo, salah satu sahabat Cak Nun dari Bali yang berpenampilan penuh tato dan tindik, seluruh badannya dipenuhi gelang, anting, dan asesoris lain sehingga terkesan seperti kepala suku Indian, dengan rambut gimbalnya. Mas Rachmad mengajak semua jamaah untuk tidak hanya melihat Waldo dari sisi fisik saja. Bagi pola pikir mainstream, tentu ini adalah hal yang aneh.Bahkan mungkin tidak bisa disangkal bagi banyak orang, bisa dikatakan“haram”dengan mas Waldo berpenampilans seperti ini.Mas Rachmad mengajak kita, dengan bermaiyah, kita berusaha meniati apa saja untuk menimba ilmu darimanapun dan kita buktikan mas Weldo malam ini membalik anggapan bahwa takaran kita terhadap manusia terhormat biasanya mereka yang memakai Jas, berpakaian rapi, takaran manusia ahli surga adalah mereka yang selalu mengenakan surban, celana cingkrang, atau mereka yang mempunyai stempel hitam di Dahinya.
Mas Waldo mengawali dengan, "Assalamualaikum..yang kemudian mengajak Jamaah Maiyah untuk berpikir, “Coba pikirkan jika hidup tanpa nilai, biarkan ukuran nilai apa adanya.Kita pun sudah berlaku musyrik dalam hal bergaul.Sebab kita bergaul dengan kepentingan.Shalat kita pun juga karena kepentingan.Berhala bukan musyrik.Musyrik itu perkara penilaian dan perbandingan.Manusia menjadi menderita karena terombang-ambing dengan kepentingan.Sehingga, nilai sesungguhnya telah hilang atau mati”, ujarnya.

Mas Waldo menguraikan bahwa kita semua kalau dilihat dari luar yang kelihatan hanya tubuh saja, padahal menurut mas Waldo, tubuh ini adalah sebuah kerajaan, yang tentu saja mempunyai Raja yang berkuasa. “Siapa raja penguasa yang berkuasa pada kerajaan kita, nafsumu atau ruhmu?”, Tanya mas Waldo.“Anda tidur saya bangun, sedangkan Anda bangunnya dalam mimpi, sehingga Anda tidak bisa melihat saya bangun, tapi saya bisa melihat Anda sedang tidur. Dan saya tidak bisa membangunkan Anda tidur, apalagi kalau tidurnya itu sedang mimpi enak, kecuali kalau Anda sudah mulai mimpi jelek, begitu Anda sedang mimpi jelek, baru Anda butuh seorang pembangun, seorang penggugah”. Mas Waldo melanjutkan dengan pendapatnya mengenai perbedaan antara guru dan Nabi. Tugas guru menurutnya adalah membangunkan orang-orang  yang sudah seringkali mimpi buruk dalam hidupnya, bukan membangunkan orang yang sedang tidur nyenyak atau mimpi enak. Sedangkan tugas Nabi adalah memasuki  ke dalam mimpi orang-orang dan berkata “wahai manusia, kita semua masih dalam mimpi yang sementara, apapaun yang kamu dapatkan dalam mimpi akan sia-sia, sebab kebenaran hanya akan bisa kamu dapatkan kalau kamu sudah bangun. Dan bangun itulah akhirat, bangun itulah kenyataan yang sebenarnya”, jelas mas Waldo. Nah dari sini monggo kita periksa diri kita masing-masing apakah kita sudah bangun atau masih di dalam mimpi.

Menanggapi seorang yang bertanya mengenai ciuman tanpa kepentingan, mas Waldo merespon, kalau kita sedang berhadapan dengan telur, maka jangan lantas bayangkan ayam. “Kalau kita ingin menikmati apa saja, jauhkan dari nafsu, kepentingan itu wujud dari segala nafsu, orang yang hidup dalam nafsu tidak akan pernah bersyukur, dan tidak akan pernah bisa menikmati hidup apa adanya, kalau Anda belum paham ini mungkin masih perlu belajar 10 atau 100 tahun lagi. Untuk belajar kadang dibutuhkan cukup 2 menit saja, kadang 100 tahun pun belum tentu bisa, itu tergantung kita picek atau mellek”, terang Mas Waldo.

Waktu Jeda, Mas Rachmad meminta mas Waldo untuk unjuk kebolehan vokalnya dengan berkolaborasi dengan group musikBananaTree, kali ini Mas Waldo melantunkan lagu Metallica yang berjudul Nothing Else Matter.

Pak Toto Rahardjo, salah satu narasumber Bangbangwetan malam ini memulai uraiannya, bahwa kita hidup dalam berbagai peradaban diantaranya peradaban hati, peradaban pikiran, peradaban perut, dan yang menguasai pertimbangan kita itu apa? Menurut pak Toto, problem kita sejak kecil sebenarnya, yang menjadi pertimbangan adalah materi, keserakahan ketidakpuasan, itulah kenapa banyak koruptor yang menawarkan diri menjadi pemimpin. Maiyah mecoba untuk melakukan pembelajaran yang lebih mendalam, tidak sekedar merespon situasi yang ada sekarang, karena kita tahu situasi yang terjadi sekarang adalah akibat dari penguasaan materi, semua di materikan, bahkan naik haji yang seharusnya bisa transendental pun malah jadi materi, bahkan gusti Allah dijadikan materi. Pak Toto mengingatkan, dulu beliau pernah berkata bahwa orang maiyah wajib melakukan tafsir. Selama ini begitu kita mendengar tafsir, selalu kaitannya dengan Qur’an dan Hadist. Malam ini pak Toto mencabut pernyataan tersebut, karena menurut beliau, tafsir itu memilki tradisi, memiliki metode yang memang panjang. Jadi maiyah itu bukan tafsir, kecuali tafsir sehari-hari, sedangkan kalau untuk al-Qur’an dan hadist itu kita wajibnya adalah tadabbur, mengkaji dan merefleksikan. “Tafsir itu akan terkait dengan bahasa, ada metode yang harus dipertanggung jawabkan, dan  mulai saat ini saya cabut pernyataan itu”, jelas pak Toto yang sebelumnya juga mengakui telah melakukan diskusi menganai hal ini dengan Ustad Nursamad Kamba dan Cak Fuad.
Pak Toto melanjutkan, “Bahwa Cak Nun pernah menjelaskan mengenaiilmu katon, itu sebetulnya tingkatnya pada tataran materi, dan inilah yang mempengaruhi peradaban pikir kita, bahkan peradaban batin pun dipengaruhi oleh material. Maka ukuran-ukurannya pun materi, misal berbuat baik bisa hanya karena pertimbangan materi. Dalam keseharian kita sangat dipengaruhi oleh takeran materi. Untuk menjadi pemimpin harus punya duit, filosofi tidak penting, visi tidak penting”.“Karena kita meletakkan diri sebagai majelis ilmu maka apa yang dikatakan mas Waldo malam ini, pasti kita akan ambil sebagai pendalaman ilmu malam ini, misal tadi bilang siapa yang menguasai kerajaan tubuh kita, materi atau ruh kita? Ini adalah bahasa tingkat tinggi yang perlu kita dalami maknanya”, ungkap Pak Toto.

Cak Priyo Aljabar menceritakan pengalamannya bertemu dengan berbagai komunitas atau simpul Maiyah di berbagai daerah. Cak Priyo menceritakan bahwa komunitas Maiyah yang ditemuinya bermacam-macam, diantaranya Komunitas yang mendalami kesenian sastra dan musik, ada juga simpul Maiyah yang menekuni urusan“bedah langit” dengan wirid dan istighosah di daerah Tunggal Karep Tuban, simpul Maiyah di lereng gunung Penanggungan, dan sebagainya. Dengan bermacam-macam karakter yang ada, Cak Priyo berpesan, “Ojok ngadili gae ukuranmu, sesama siswa dilarang mengisi raport teman, Waldo punya karakter seperti itu dengan berbagai caranya, ya itu Maiyah, melingkar tidak ada yang di atas, tidak ada yang di bawah, tidak ada yang di depan belakang, rukun, semuanya sama. Kebersamaan ini yang sebetulnya ingin kita wujudkan” tegas Cak Priyo.
Selanjutnya Cak Priyo meminta group musik BananaTree untuk melantunkan lagu Bon Jovi terbaru yang berjudul Sewu Kutho, dengan aransemen bossanova disambut applaus Jamaah.

Tiba saatnya Cak Nun menyampaikan uraiannya dengan mengajak kita semua untuk mulai menakar apa saja yang kita peroleh dari diskusi malam ini. Cak Nun mulai menjelaskan mengenai kata Ngaji.Ngaji itu berasal dari kata aji, kemudian melahirkan 2 kata benda. yang satu “me-ngaji” yang kedua “men-kaji”. Kalau “meng-kaji” itu berarti dipersepsikan, ditaker, dianalisis, dihitung, dilakukan hipotesis, kemudian diambil kesimpulan. Sementara “me-Ngaji” tidak mengutamakan proses kognitif, proses deskriptif, perumusan, sistematika berpikir seperti halnya “meng-kaji”. “Meng-aji” itu fokus pada apa saja yang bisa meninggikan aji kita. Aji itu berasal dari kata Jawa, sedangkan kalau dalam bahasa Arab, bentuk dari kata Aji  ini di bagi dua, yaitu derajat dan martabat. Derajat adalah “ajine wong urip nang ngarep e wong sing gae urip”, sedangkan Martabat adalah “Ajine wong urip” di antara sesamanya.

Berbeda dengan pendapat Mas Waldo tadi, menurut Cak Nun orang hidup itu  harus  punya kepentingan. Kepentingan itu berasal dari kata penting, itu wajib. Jadi pertama, harus bisa dibedakan, dalam hidup ini yang penting mana yang tidak penting mana. Yang kedua, penting untuk siapa, lebih baik mana pentingmu sendiri atau pentingnya orang banyak. Yang mana yang dinomorsatukan. Kita balik ke wacana Maiyah kita dulu, bahwa bener itu ada 3 macam, benernya sendiri, benernya orang banyak, benernya yang sejati. Benernya sendiri melahirkan egosentrsime, melahirkan egoisme kalau sudah berada dalam struktur kekuasaan akan melahirkan monopoli, melahirkan nepotisme, korupsi, melahirkan “tahlilan di pesantren maupun di tempat kiyai”. Cak Nun menjelaskan Idiom “Tahlilan”, “Pesantren” “Kiyai” sekarang dipakai oleh koruptor untuk mengaburkan istilah yang sebenarnya. Para koruptor sudah menggunakan ideom yang lebih Islami. Kata “Tahlilan” yang dimaksud adalah meeting atau pertemuan, “pesantren” adalah dinas atau kementrian yang mengeluarkan proyek  untuk dikorup, sementara “Kiyai” adalah istilah untuk menyebut anggota DPR atau pejabat tertentu. Dengan cara seperti ini maka semakin mencairkan dan mengaburkan takeran  komunikasi, sehingga ketika kata “Tahlilan” ini disadap oleh KPK misalnya, maka itu tidak akan menjadi fakta hukum.


Jowo Digowo, Arab Digarap, Barat Diruwat.
Cak Nun menguraikan bahwa ada takeran bahasa sastra, takeran bahasa hukum, bahasa budaya, bahasa diplomasi, yang bermacam-macam takerannya. Apa yang dikatakan mas Waldo tadi sebenarnya adalah takeran pencarian diri yang sifatnya sufistik, maka jangan dipahami secara akademis. Ada takeran yang sangat baik untuk kita pelajari yang didapatkan dari Maiyahan Merapi beberapa waktu yang lalu, yakni Jowo Digowo, Arab Digarap, Barat Diruwat. ini tinggal di elaborasi secara ilmu. Kita lihat saja kebanyakan kita menjadi orang Indonesia yang tidak pernah membawa Jawa-mu, disentron dijadikan ejekan, cenderung meninggalkan kearifan yang baik dari Jawa.

Cak Nun melanjutkan uraiannya dengan bertanya pada Jamaah, “Kamu tahu Abu Jahal?”  Dia adalah paman sekaligus musuh Nabi. Kira-kira Dia itu menamakan dirinya sendiri seperti itu, apa orang Islam yang menyebut dirinya menyebut Abu jahal? Sekarang kalau aku menyebut diriku Abu Jahal itu baik apa tidak? Kalau aku memilih untuk merasa diriku buruk, itu apik ta elek? Kalau dalam bahasa jawa itu itu iso rumongso. Terus kalau aku ngarani awakku dewe koyok nabi, aku iku alim, sholeh, itu baik atau tidak? Jadi lebih baik mana,  orang yang menyebut dirinya baik, atau menyebut dirinya buruk?”, tanyak Cak Nun, yang serentak Jamaah menjawab dengan pilihan kedua. Nabi-nabi atau Rasul menyebut dirinya baik atau jelek? Semua Nabi menyebut dirinya dholim, menyebut dirinya fakir. Nabi Muhammad hanya menyebut jabatan resmi dari Allah yakni sebagai utusan Allah, dan yang menyebut Nabi Muhammad itu Nabi atau  Rasul itu tidak lain adalah Allah sendiri, tidak mungkin nabi menyebut dirinya sebagai Nabi.

Mas Weldo pernah menyampaikan kepada Cak Nun di acara Maiyahan Bali, bahwa dengan ia berpakaian dan berpenampilan seperti ini maka tidak ada seorang pun yang berpikir bahwa ia punya kebaikan. “kalau Anda berpenampilan necis, gamis, orang pasti akan berfikir bahwa ia orang alim, orang baik, tidak mungkin menipu, tidak mungkin manipulasi. Dan kalau ternyata orang yang berpakain sorban dan gamis yang indah itu ternyata bukan seperi disangka bahwa dia itu orang baik, maka yang terjadi adalah penipuan. Kalau aku menyebut diriku Habib, sehingga orang menyangka sebagai keturunan Rasulullah itu kan merepotkan banyak orang, sehingga nanti akan banyak orang yang sibuk mencari, browsing di internet melacak silsilah saya, itu kan bikin repot. Makanya disini gak usah merepotkan, tinggal panggil Cak Nun saja sudah cukup, itu saja , tidak usah repot-repot dan itu tidak akan mengandung penipuan, kalau hanya panggilan Cak, itu kan sekedar keakraban biasa”, jelas Cak Nun disambut tepuk tangan Jamaah.

“Makanya begitu sekarang ada yang menyebut saya lebih bahaya dari syiah, saya sangat berterima kasih. Orang yang menjahati kita adalah orang yang berjasa untuk mengambil kearifan diri kita untuk kita terapkan kepada orang yang menjahati kita itu. Jadi gak apa-apa, di Islam itu semua tidak ada masalah”, sambung Cak Nun.Bahkan Cak nun berharap, sekalian saja dianggap lebih berbahaya dari Iblis, karena sebenarnya Casting-nya Iblis sudah jelas dalam teater-nya Allah, tugasnya sudah jelas, dan kita tidak masalah dengan Iblis karena kita sudah punya takeran, Iblis juga punya takeran. Cak Nun menjelaskan bahwa rumusnya Iblis itu jelas, semua akan dirasuki, semua akan dimasuki ke dalam aliran darahnya kecuali orang yang ikhlas seperti kanjeng Nabi.
Lebih dalam Cak Nun mengeksplorasi mas Waldo dengan menyebutnya sebagai monumen keyakinan. Mas Waldo membuktikan bahwa ia berani menanggung resiko yang sangat-sangat besar. Kita tidak tahu sholatnya bagaimana, jangan merasa menjadi petugas-nya Allah dengan menilai negatif terhadap penampilan mas Weldo. ”Sing nduwe iki sopo?, Allah. Terus takeranmu dengan takeran Gusti Allah itu lebih tepat mana? Mau saingan sama Allah? padahal Allah itu punya takeran yang al-Lathief, sangat lembut. Kita kan materi yang kita lihat”

Tadi mas Waldo mengatakan, akherat itu kalau kita sudah bangun, Nabi itu tujuannya masuk dalam mimpinya orang. Dengan pernyataan tersebut Cak Nun berpesan bahwa itu jangan ditangkap sebagai nash, informasi resmi agama.Kalau dia mengatakan Nabi bertugas memasuki mimpi manusia, itu adalah bahasa rohani dan puisi dia, pahami bahasa puisi dan bahasa sastra. “Jamaah Maiyah itu sering bertemu saya melalui mimpi, hampir tiap hari mendaftar mimpi ketemu  dengan disuruh begini, disuruh begitu, kalau kita terapkan pernyataan mas Weldo tadi berarti saya ini kan seorang Nabi?”, kata Cak Nun disambut tawa Jamaah.

“Orang kok berhenti dan dipaku pada meteri, kamu pikir kalau orang sudah ruku’ sujud itu sudah dikatakan sembahyang? Kalau cuma pura-pura bagaimana? bagaimana caranya kamu bisa tahu dia itu sembahyang atau hanya pura-pura saja? Bisakah kamu menembus hatinya? Mengerti kamu niatnya? Lah kamu kok percaya kalau dia sembahyang atau tidak. Jadi letak takeran utama orang sholat itu bukan pada materi, meskipun tanda-tanda pengabdian kepada Allah antara lain melalaui fasilitas materi, tapi materi itu sendiri tidak bisa menjadi takeran”
Suatu ketika ada Kiai dari Jawa Tengah, berkunjung dan sowan kepada Kiai Hamid Pasuruan, setelah sowan dan bermaksudpamit akan pulang, Kiai Hamid menitipkan salam ke Kiai tadi untuk disampaikan kepada seorang gelandangan yang biasanya menempati perempatan di Pasar Kendal. Setelah pulang, Kiai tadi akhirnya bertemu dengan gelandangan yang dimaksud, disampaikanlah salam dari Kiai Hamid tadi. Kontan saja si gelandangan tadi langsung marah-marah dan berkata keras, “Hamid iku yo’opo, aku sengaja menyamar puluhan tahun kok, malah diumum-umumkan, kalau begitu caranya lebih baik aku mati saja”, saat itu juga orang biasa disebut “gelandangan” ini langsung mati ditempat seketika itu juga.Kesimpulannya, Apakah ia disebut gelandangan atau bukan? Gelandangan itu kan perjanjian orang banyak mengenai suatu keadaan yang disebut gelandangan. Padahal ada banyak Waliyullah yang diperintah Allah untuk menyamar menjadi gelandangan.“Kamu pikir Allah membuat kehidupan yang begini saja, ada beribu-ribu lapis dimensi kehidupan dengan teater dan skema keaktoran yang bermacam-macam yang kamu tidak mengerti takarannya. Maka bekal orang hidup adalah rendah hati bahwa sangat banyak yang tidak kamu ketahui dibanding yang kamu tahu”, tegas Cak Nun.

Merespon pertanyaan dari salah seorang jamaah mengenai “ciuman tanpa kepentingan” yang sempat disamapaikan diawal, Cak Nun menjelaskan, “Hidup yang penting itu apa, fisiknya, ruhnya, muatannya atau apa? Maka ketika Anda sudah tua, istri anda juga sudah menua, Anda sudah tidak mendapatkan estetika dan kecantikan seperti 20 atau 30 tahun yang lalu, terus kepentinganmu apa ketika engku tidur bersama istrimu? Maka kamu jangan mengabdi kepada istrimu, kamu jangan mengabdi kepada suamimu,kalian berdua mengabdi pada Allah-Mu, ketika engkau menyetubuhi istrimu bilang Ya Allah aku menggauli istriku karena aku rindu kepadaMu, karena aku rindu kepadaMU, ini untuk-Mu ya Allah. Karena kepentingan kita adalah hanya untuk Allah.Semua bahagia dan deritaku di dunia hanya untukMu ya Allah, tidak ada enak tidak ada tidak enak, semua kita lakukan Lillahi ta’ala.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.., wes engko bengi praktekno”, Cak Nun langsung disambut gemuruh jamaah.

Melanjutkan pembahasan yang tadi bahwa apapun yang datangnya dari Arab itu harus digarap, diramu dengan kebudayaan Jawa, bukan berarti Islam yang dijawakan, tapi aplikasikan dengan ramuan budaya meskipun ibadah mahdohnya sama, tapi ibadah muamalah nya beda. Misal budaya menyambut tamu, memuliakan orang tua di Arab, di Jawa itu beda. Ketika kita menghormati tamu demi mentaati Islam, yang kita bawa kesini bukan arabnya, tapi inti dari menghormati tamu itu kita cari dengan kebudayaan kita sendiri. Yang terjadi selama ini Arab tidak digarap, langsung diterapkan begitu saja, ditelan tanpa diracik, yang pinter ngaji ngenyek yang gak pinter ngaji, yang gak pinter ngaji cara alasan lain untuk ngeyek yang pinter ngaji. Di daerah Jawa Tengah kebanyakan orang melantunkan “alkamdulillagi rabbil ngaalamiin...” dinyek sama orang yang dari Jawa Timur yang bisa melafalkan huruf “Ain” dengan baik. Bilal, salah seorang sahabat yangsangat dicintai Rasulullah karena begitu kuat imannya,Ketika ia adzan dan melantunkan “asyhadualla ilaha illallah..”, ia tidak bisa mengucapkan huruf “Syin”, lidahnya hanya bisa mengucapkan huruf “Sin”. Sahabat Nabi yang protes dengankeadaan itu. Nabi menjawab secara diplomatis, bahwa “Sin”-nya Bilal itu “Syin”. Singkat namun tegas. Sebagaimana dulu pernah kita membahas mengenai bunyi atau suara kokok ayam. Bagi orang Jawa,  kokok ayam disebut “kukkuruyukk”, sementara “kukkuruyuk”nya orang Sunda adalah “kokkorongkong”, dan “kongkorongkong”-nya orang Madura adalah “Kukkurunnuk”.

Dengan cara diplomasi Rasulullah tadi, Cak Nun mengajak kita untuk mencari kearifan Rasulullah, kesantunannya, tingkat keilmuannya, silakan cari sebanyak-banyaknya, supaya kita mempunyai kearifan dan kesantunan, tidak gampang menghujat orang lain. Dulu ulama hanya berjumlah 9 orang yang kita kenal sebagai Walisongo, mengislamkan berjuta-juta orang. Sekarang Ulama-ulama pekerjaannya kebanyakan adalah mengeluarkan orang dari Islam. Kita lihat saat ini betapa seringnya ulama bilang“kafir itu”, “bid’ah itu”, “sesat itu, “halal darahnya itu”.Mengenai fatwa “Halal darahnya”, Cak Nun menanggapi secara retoris, kalau memang ada fatwa seperti itu sebaiknya segera bunuh saja, jikacuma sekedar berfatwa “halal darahnya” tapi tidak pernah dilaksakan dengan membunuhnya, maka Allah akan Marah : ..” kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”(QS. Ash Shaff 61: 2-3). “Maka kita mengharapkan dan merekomendasikan para Ulama yang memfatwkan kepada golongan orang-orang yang “halal darahnya” segeralah bunuh mereka, tak tunjukkan siapa saja yang halal darahnya itu, Kabeh kok dadi Gusti Allah”, sindir Cak Nun.

Disampaikan oleh Cak Nun, ada tingkatan-tingkatan“Takaran” yang harus diperhatikan :
  1. Tingkatan terendah yakni Walayathul Khawas, menyangkut dimensi pada wilayah fisik atau materi, atau bisa disebut ilmu katon. 
  2. Diataskhowas, yakni Walayatul Hifdzi, menyangkut ilmu katon, namun tidak terlihat, seperti halnya  RAM/memori. Kaitannya dengan masalah IT, komputer, teknologi digital, dsb.
  3. Walayatul Khoyal (hardware atau Khowas tadi dan Hifdz/software tadi disimulasikan, dianimasikan dengan khayalan imajinasi dan aspirasi otak dan rohani manusia. Industri atau kapitalisme mengabdi kepada Khowas/materi, termasuk juga wilayah Hifdzi, Wilayah Khoyal ternyata juga diabdian kepada khowas. Bahkan sekarang semua ke khowas, termasuk juga agama, alqur’an, Kiai, Habib, Gus, semua mengabdi kepada khowas. Di tiga wilayah ini (Khowas, Hifdzi, Khoyal) kita sudah terbiasa kalah. Orang tidak punya kecenderungan untuk menguasai di tiga wilayah ini.
  4. Walayatul Fikr, wilayah filosofi dan pemikiran.
  5. Walayatul Fa'al, sebagai tingkatan paling atas/tertinggi.
Orang Jawa tidak mau dan tidak punya kecenderungan untuk berkecimpung di tiga wilayah ilmu katon ini, bagi orang Indonesia ilmu katon ini cuma dibuat mainan. Misal untuk ilmu katon, “kamu kok pilih presiden SBY?” Bagi orang Indonesia memilih SBY itu bukan peristiwa politik. “Kamu kok mau disogok 50 ribu rupiah menjual kedaulatan untuk milih bupati yang nyogok kamu?”Orang Indonesia tidak bisa menjelaskan, tapi yang terjadi pada mereka adalah mereka bukan menjual kedaulatan, mereka dapat uang 50 ribu rupiah diterima, suruh mencoblos ya nyoblos, tidak ada urusannya sama kedaulatan. Orang Indonesia itu kedaulatan opo iku gak mikir, pancasila itu itu benar enggak yo babbah, negara Indonesia itu ada atau tidak ada itu podo ae, pemerintahnya siapa saja  gak ono bedane, Presiden ganti sehari empat kali yo monggo.Jadi tidak ada perisiwa politik, orang indonesia tidak punya keseriusan disitu.

“Orang Indonesia adalah penghuni di wilayah tertinggi, Walayatul Fa’al, mereka menunujukkan kehebatan tidak di dalam pertandingan, tapi menunjukkan kehebatan dalam kehidupan. Kita tidak hebat dalam pertandingan, karena kehebatan kita itu otomatis kita langsungkan dalam kehidupan. Meraka tidak pernah ikut pertandingan balap F1, tapi kalau mau beneran balapan, silakan datang kesini untuk nyopir Bus di Pantura dengan Bus Sumber Kencono kalau berani?”, tantang Cak Nun

Kalau misalkan berlangsung  perang secara resmi, kita tidak pernah bisa serius, tentara kita tidak punya peluru yang cukup untuk sekedar latihan. Tapi kalau tawur, siapa yang lebih berani dari kita? kita adalah jagoannya. Dimana-mana tidak ada yang mempunyai budaya tawur seperti di negara kita, paling mentok tawur antara buruh melawan polisi. Kalau disini, sesamapengurus Masjid, sesama Islam, sesama Pelajar, sesama Mahasiswa saja tawuran. “Tawur kan sahabat kita sehari-hari”, kata Cak Nun,“Anak SMA kok dilarang tawur, terus dikonkon lapo? Tawur adalah Pertentangan yang tidak ditata. Apakah pertentangan antar Parpol itu tertata tidak secara ilmu dan sosiologi? Apakah pertentangan antara Anas dan SBY tertata tidak secara manajemen konstitusi kita? Sing gak tawur iku sopo? Semuanya tawur. Dalam beragama kita tawur, takarannya juga terkadangngawurdengan gampang menyesatkan orang lain”.

Ilmu yang diberlakukan di Indonesia itu adalah ilmunya dari orang-orang Amerika yang tidak punya pengalaman hidup seperti orang Indonesia, mereka tidak punya keberanian hidup sebagaimana keberanian orang-orang Indonesia. Mereka adalah orang yang tidak pernah hancur, sebagaimana kita hancur dan tidak hancur oleh kehancuran itu. Mereka adalah orang yang tidak berani kawin tanpa pekerjaan, sebagaimana Anda kawin tanpa pekerjaan. Mereka tidak punya “bismilllah” yang di Indonesia itu modal utama.Jadi Indonesia itu adalah champion of life. Kita itu penduduk dari wilayatul Fa’al, berasal dari Fa’alul lima yurid, Allah itu maha bekerja, Maha hidup dan menghidupi, jadi orang indonesia adalah juara di dalam hidupnya. Kita bukan juara di turnamen-turnamen. Begitu juga ini acara Maiyahan seperti ini kan sebenarnya juara. Mana ada di seluruh dunia ada acara sampai jam 3 pagi, orang duduk tenang, ikhlas gembira. “Maka ini adalah intinya Indonesia, yang bahkan media koran-koran sekitar sini tidak kenal Anda. Karena Anda adalah Indonesianya Indonesia, yang paling Indonesai dari Indonesia, juara luar biasa”, tegas Cak Nun, “Kita ini juara dalam kehidupan, syaratnya satu, jangan mengungguli mereka, biarkan mereka merasa unggul, karena mereka memang tidak unggul, sehingga kita harus besarkan hatinya dengan berpura-pura menganggap mereka unggul. Anda melihat Indonesia yang harus anda tolong, harus Anda sayangi, Harus Anda besarkan hatinya, Anda yang akan memandu mereka,  memimpin, menyelamatkan mereka semua”.

Takeran Ilmu Kesehatan
Hadir juga sebagai narasumber malam ini adalah dr. Ananto, sebagai seorang dokter beliau menanggapi uraian tadi dengan mengatakan bahwa “takeran” dalam ilmu kedokteran itu disebut dosis, maka untuk tahu dosis, dibutuhkan kajian yang cukup mendalam. Seperti halnya dosis 3x1 itu sebetulnya berlaku untuk orang yang berat badannya 60 kg. Untuk orang yang berat badannya di atas 60 kg, dosisnya tentu beda lagi. “Karena tiap orang berbeda, maka saya harus berhati-hati dengan dosis/takeran di masa mendatang.Ternyata untuk raga pun butuh takaran yang pas. Dan setiap orang berbeda satu sama lain” jelas pak dokter.

Cak Nun menambahi apa yang disampaikan dr. Ananto tadi dan berharap nantinya akan ada hal yang perlu disalahkan atau dibenarkan. Dalam pemahaman post modern, sesudah memuncaknya ilmu pengetahuan termasuk ilmu kedokteran, filosofi dasar ilmu kesehatan bahwa dokter adalah setiap orang atas dirinya sendiri. Dokter secara resmi, adalah asissten setiap orang yang diminta konsultasi mengenai beberapa hal. Tapi yang menakar dirinya adalah setiap orang. Karena dokter itu dzonni, menduga-duga pada setiap orang. Dia tidak qoth’i atau pasti.Menurut Cak Nun, yang bisa qoth’i adalah diri kita sendiri, minum obat perlu tidaknya hanya kita sendiri yang tahu. Kedokteran secara ilmu itu cuma sekian persen, sementara dzonni-nya mungkin lebih besar. Maka dokter harus punya kerendahan hati dan kejujuran pada pasiennya, dan itu sulit kalau kedokteran sudah menjadi bagian dari walayatul khowas, menjadi bagian dari materialisme yang melahirkan kapitalisme dan industri. “Kalau kesehatan sudah menjadi industri, maka dokter akan menjadi alat industri yang memperbanyak orang sakit sehingga pendapatannya meningkat.Itu tidak terjadi kalau kedokteran itu adalah urusan moral. Mengobati orang itu cinta kasih dan moralitas antar sesama manusia. Bahwa yang diobati akan beterima kasih, itu soal moral yang lain yang mengakibatkan penambahan ekonomi bagi si dokter”, jelas Cak Nun.
Cak Nun menceritakan, menurut dokter yang pernah memeriksanya, secara resmi sebenarnya Cak Nun telah terjangkit kolesterol tinggi. Cak Nun bertanya pada dr. Ananto, gejala kolesterol tinggi itu seperti apa? Dokter Ananto menjawab, orang dengan kolesterol tinggi itu biasanya mempunyai badan yang cepet capek, tidak fit, ada beberapa sedikit rasa nyeri.Cak Nun menanggapi, berarti kolesterolnya agak aneh, malah sehat bener, gak penah ngantuk, gak pernah capek, menempuh perjalanan naik bus 13 jam tidak ada masalah, hampir tiap malem Maiyahan sampai menjelang pagi tidak ada masalah. “Iki kolesterol cap opo ngene iki”, kata Cak Nun dengan nada heran. “Saya cuma ingin mengatakan kepada Anda semua, Yuk kita menjadi dokter bagi diri sendiri. Jangan main-main dengan takerannya hidup, Allah memberi contoh air zam-zam. Air biasa tapi diperkenankan dan diperintah Allah untuk menyembuhkan orang yang meminumnya sesuai dengan yang diinginkannnya. Manusia khalifahnya, obat adalah karyawannya, meskipun juga jangan sampai ngawur. Tetep dalam takeran yang rasionalitas, dan Anda harus rasional pada diri Anda, tidak boleh ada sedikit aus pada dirimu, jangan sampai dirimu mengalami proses perapuhan, ini yang terjadi pada manusia modern. Jangan sampai rapuh, yang pertama rapuh pikiranmu, kalau sudah pikiranmu rapuh, maka rapuh juga hatimu, sel-selmu rapuh, adrenalinmu tidak muncul, semangat dan gairahmu tidak muncul, maka kamu akan mengalami perapuhan jasad”, jelas Cak Nun, “Pak dokter ini bener apa tidak?”, tanya cak Nun pada dr. Ananto, beliau menjawab, “Insya Allah benar Cak, sami’na waatho’na”.

Pak Toto Rahardjo merangkum semua yang dibahas dengan menambahkan catatan penting bahwa diluar takaran yang baik itu, selalu terjadi dominasi. Sejak dari tahap yang paling bawah, materi, memori imajinasi, tahap-tahap ini sangat di dominasi oleh peradaban materi.
Di Akhir pembahasan Cak Nun mengingatkan khusus untuk Jamaah Maiyah untuk setidaknya mengingat-ingat urutan judul tulisan beliau yang baru-baru ini muncul di media koran, yakni  secara berurutan : “Allah 2014”, “Nasionalisasi Indonesia”, “Presiden”, “Para Kekasih Iblis”,dan selanjutnya yang akan segera terbit adalah “Persemakmuran Nusantara”. Silakan dipikir sendiri, direnungkan, tidak perlu dibaca isinya secara keseluruhan, kenapa urut-urutannya bisa seperti itu, semoga bisa dipahami maksudnya.

Sebelum melantunkan sholawat bersama-sama, Cak Nun mengingatkanteman-teman yang beragama selain Islam, mohon percaya dan yakin untuk merasa aman kepada kita sebagai  orang Islam, kalau kita melakukan ini, berarti ini adalah ekspresi dari ideologi rahmatal lil alamin, saling menyelamatkan satu sama lain, dan tidak saling menghakimi yang Allah sendiri punya hak menghakimi  kita. Cak Nun mengutip pernyataan Gus Dur, bahwa “NU itu adalah Syiah tanpa Imamah”.“Jadi kalau ada yang khawatir akan ada eksport revolusi syiah di Indonesia itu, saya yakin itu tidak akan terjadi mergo wong Jowo tidak mungkin punya Imamah.Mesti imamme diapusi sama makmumnya, wong Jowo sanggup memimpin dirinya sendiri sehingga tidak perlu imamah seperti halnya di Iran, wong Jowo sangat mandiri.

Informasi kedua, bulan depan kita harapkan sudah bisa melahirkan satu tradisi baru tanpa menafikan tradisi yang sudah ada, yakni sholawat maulid untuk puji-pujian ulang tahun Kanjeng Nabi SAW. “Kita akan bikin sholawat Maulidin Nur, yang kita sholawati adalah Nur Muhammad. Nur Muhammd adalah makhluk Allah yang pertama,yang kemudian ditugasi Allah untuk menjadi A menjadi B, menjadi C, salah satu episodenya Nur ini ditugasi, dikasih casting untuk menjadi Muhammad bin Abdullah yang berlaku hanya 63 tahun. Padahal Allah menciptakan waktu sangat panjang, dan saat ini Rasulullah sedang bertugas di tempat lain, di planet lain, di galaksi lain, tidak sebagai Muhammad bin Abdullah, tapi dengan tata cara dan budaya di sana. Rasulullah tidak pernah berhenti bertugas, Rasulullah bukan meninggal pada tanggal 12 Rabiul Awal sebagaimana yang kita tahu.Yang dimaksud Rasullulah meninggal adalah berakhirnya penugasan Nur Muhammad sebagai Muhammad bin Abdullah dimuka bumi, setelah itu dan sebelumya, Rasulullah sudah dan akan bertugas di tempat lain karena Allah menciptakan alam semesta yang sangat luas dengan makhluk-Nya yang bermacam-macam. Makhluk yang diciptakan pertama kali adalah Nur Muhammad dan karena Allah bahagia menciptakan Nur Muhammad ini maka Allah kemudian menciptakan seluruh jagat raya alam semesta dan makhluk-makhluk berikutnya. Nanti mungkin akan ada perkembangan dunia sholawat yang luar biasa di Indonesia dan itu tidak dilakukan oleh masyarakat Islam di dunia manapun. Mudah-mudahan ini merupakan tanda bahwa umat Islam di Indonesia dititipi Allah kebangkitan Islam di masa yang akan datang. Kebangkitan Islam bukan kebangkitan yang menindas umat lain, tapi yang mengayomi umat lain ”Kita akan menciptkan tradisi sholawat Maulidun Nur, bukan untuk menyaingi siapa-siapa, ini Mamayu Hayuning Bawono, menambah keindahan Islam, manambah keindahan kehidupan.

Terakhir pesan Cak Nun, “Seluruh pembicaraan mengenai Takeran ini terletak pada fatwa utama Cak Fuad tadi malam di PadhangMbulan, bahwa Jamaah Miayah mulai hari ini mohon dengan sangat untuk lebih melakukan kehati-hatian dan pemikiran, penghitungan kembali ketika menyebut atau melakukan pemahaman terhadap sejumlah idiom atau istilah yang penting. Kalau kamu dengar kata kiai, pikirkan lagi, kiai itu apa, begitu juga kata ustadz silakan dipikir ulang ustadz itu harusnya bagaimana, siapa dia, tugasya apa, dari mana asal usulnya, jangan gampang-gampang meng-ustadkan orang, jangan gampang-gampang tidak meng-ustadkan orang, begitu juga Gus, Kiai, Habib, Musrsyid, Ulama, itu dipikir kembali. Kalau Cak tidak masalah. Tolong ambil jarak epistimologis dari setiap idiom-idiom yang saat ini sudah kehilangan takeran di masyarakat. Karana selama ini yang menciptakan takeran bukanlah orang yang berhak menciptakan takeran, misalnya siapa yang mengakui seseorang menjadi Kiai atau bukan, seharusnya yang mengakui adalah umatnya. Siapakah yang mengijinkan seseoarang orang menjadi imam, tidak lain adalah makmummya.  Nah selama ini karana ada industrialisasi dan kapitalisme maka yang menentukan siapan ulama atau bukan itu bukan umat, tetapi pemerintah dan industri. Mudah-mudahan setelah pulang dari sini, Anda bisa lebih cerdas, lebih santun lebih lapang, sebisa mungkin hindari perdebatan, kalau perdebatan membawa manfaat silakan diteruska, tapi kalau tidak hentikan saja”.

“Umur-umur rata-rata orang Indonesia adalah seumuran Anda, yakni 27,5 tahun,  sehingga Anda sebagai mayoritas penduduk Indonesia, dan Anda adalah orang yang akan harus kerja keras setelah 2015, kerja keras dalam arti Anda yang memimpin kematangan di Indonesia, yang akan menjadi tanah-tanah perdikan yang luar biasa makmurnya, membikin mercusuar untuk seluaruh dunia, dan Islamnya adalah Islam yang diidamkan-idamkan oleh semua manusia di dunia, adalah Islam yang diolah, digarab, dan diruwat oleh Islamnya Indonesia”.

Hasbnaaall wani’mal wakil, Ni’mal maula wani’man Nashiir..
[redBbW-Adhon-Zia]